Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bikin Sedih, Bocah Tiga Tahun di Kota Tegal Punya Kebiasaan Makan Tanah dan Tembok

Vero Fernanda (3), bocah di Kota Tegal yang memiliki kebiasaan makan tanah. [Suara.com/F Firdaus]
MURIANEWS, Kota Tegal – Vero Fernanda bocah tiga tahun di Kota Tegal memiliki kebiasaan makan yang tak biasa. Anak pasangan suami istri Carmo (50) dan Umrotun Khasanah (41) itu terbiasa memakan tanah serta campuran pasir dan semen di tembok.

Kebiasaan tersebut sudah terjadi sejak sang bocah berusia 1,5 bulan. Pihak keluarga juga tak tahu pasti apa penyebabnya. Hanya saja, kedua orang tua mengakui jarang membelikan jajan karena terbentur masalah ekonomi.

‎”Makan saja sehari bisanya hanya dua kali. Kalau ada yang ngasih lauk ya akhirnya pakai lauk. Tapi kalau tidak ya, makan seadanya. Kadang gak pakai lauk. Bagaimana beli jajan,” kata Umroton yang tinggal di RT 3 RW I Kelurahan Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal seperti dikutip Suara.com.

Umrotun mengatakan anaknya sudah biasa memakan tanah sejak berusia sekitar 1,5 tahun. Ia pertama kali mengetahui kebiasaan anaknya itu saat sang anak sedang bermain di dalam rumah.

Dia kaget ketika melihat anaknya memakan campuran semen dan pasir di tembok yang kondisinya sudah retak atau ambrol.

“Pas ditinggal masak, dia makan pecahan-pecahan tembok. Setelah itu keterusan sampai sekarang. Kalau main di luar rumah, tanah yang dimakan. Katanya enak. Busa kasur juga kadang dimakan,” ujarnya.

Umrotun mengaku sudah sering melarang ketika memergoki anaknya sedang makan tanah. Namun kebiasaan itu tetap dilakukan.

“Sudah dilarang, tapi masih makan terus sampai sekarang. Biasanya kalau pas tidak ada orang. Kalau dilarang nangis,” ujarnya.

Kendati kerap mengonsumsi benda-benda yang tak lazim, Umrotun menyebut anaknya tidak mengalami gangguan kesehatan yang serius.

“Dia ngeluhnya perutnya sakit. Saya kasih obat puyer. Tidak pernah dibawa ke dokter,” ujarnya.

‎Umrotun memang tergolong keluarga tidak mampu. Ibu tiga anak itu sehari-hari hanya ibu rumah tangga. Sementara suaminya, Carmo membuka jasa servis televisi di rumah.

“Penghasilan tidak tentu. Kalau ada yang servis saja. Dapatnya Rp 10 – 25 ribu. Sebulan paling yang servis paling banyak tiga,” ujar Carmo.

‎Sebagai keluarga tidak mampu, Carmo dan Umrotun tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Pasalnya, keduanya hanya menikah siri sehingga tak memiliki kartu keluarga (KK).

‎”Belum pernah dapat bantuan karena tidak punya KK. Anak juga tak punya akta kelahiran,” ungkap Carmo.

Carmo berharap bisa mencatatkan pernikahannya secara resmi agar bisa memperoleh dokumen kependudukan yang diperlukan untuk mengurus berbagai keperluan, termasuk sekolah anaknya.

“Belum bisa nikah secara resmi karena tidak punya uang,” ucapnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Suara.com

Comments
Loading...