Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Petani Pati Kampanyekan Beras Sehat Merah Wangi

Petani memanen varietas padi wangi merah. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Sejumlah petani di Kabupaten Pati, saat ini sudah mulai memproduksi beras merah wangi. Hal itu lantaran beras tersebut dinilai lebih menyehatkan dan lebih mudah untuk proses penanamannya. Selain itu, untuk harganya juga tidak mudah digoyah keadaan.

Kali pertama, di Pati, beras merah wangi itu diproduksi oleh Koperasi Produsen Petani Indonesia (KPPI) di Wilayah Dukuhseti. Ahmad Fathoni selaku Ketua KPPI mengatakan, bulir beras merah wangi produksinya memiliki citarasa dan tekstur yang lebih berkualitas dibandingkan daerah lain.

Hal itu lah yang menyebabkan produk dari tempatnya, selalu menjadi rebutan di pasaran.

Setiap kemasan beras merah wangi, Fathoni menjualnya pada harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 20.000 per kilogram. Namun untuk anggota sendiri dijual Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan untuk pemasaran produknya, sementara ini masih didominasi pasar lokal.

“Pasar sementara lokal, dan kita berusaha untuk merambah provinsi-provinsi lain. Semua kita tangani sendiri, kita kemas sendiri karena kita telah mengajukan izin merek dagang. Mereknya adalah Pulen Leh,” katanya, Jumat (10/9.2021)

Untuk tanaman padi jenis tersebut, dikatakan Fathoni, perlakuan dan perawatannya secara organik. Uniknya, baik pupuk maupun pestisida dibuat sendiri oleh pihak KKPI Dukuhseti dengan memanfaatkan bahan-bahan di lingkungan sekitar yang disediakan oleh alam.

“Semua yang kita tanam dengan perlakuan organik. Menyiasati dengan produk-produk kami sendiri baik organik, maupun sejenis bio, dan pupuk kandang. Kita berusaha merancang sendiri, bahan-bahan banyak di sekitar kita. Karena pada intinya kita juga mengkampanyekan makan beras sehat,” jelasnya.

Fathoni menyebut, untuk padi merah wangi disediakan lahan seluas delapan hektare, sedangkan setengah hektare lainnya untuk jenis mentik mutiara, basmati, dan japonica karena masih proses pengembangan.

“Dari lahan lima hektare menghasilkan 23 ton merah wangi yang sudah panen dari Desa Puncel, yang tiga hektare panen dari Desa Ngagel. Jadi asumsi kita dari total delapan hektare kita dapat 35 ton untuk merah wangi,” ujarnya.

Meski perkembangan produk-produk koperasi sangat menjanjikan, tetapi Fathoni mengaku masih saja mengalami sejumlah kendala.

“Kendala, permodalan untuk penyerapan gabah di anggota karena kami butuh anggaran. Kita belum memiliki gudang untuk kepentingan produk yang diprogramkan oleh koperasi. Kemudian tempat pengeringan, itu juga belum ada,” pungkasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...