Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kudus Klaim Sudah Tak Ada Lagi Desa Miskin di Kota Kretek

Salah satu industri UMKM bordir di Desa Padurenan, Kudus. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengklaim di daerahnya sudah tak ada lagi desa miskin atau sangat miskin. Bahkan jumlah desa berstatus mandiri juga semakin banyak.

Jika sebelumnya jumlah Desa Mandiri yang tercatat hanya 12 desa, kini meningkat menjadi 17 desa.

“Saat ini desa miskin ataupun sangat miskin di Kudus tidak ada, sedangkan status berkembang dan maju masih banyak,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kudus Adi Sadhono, Selasa (7/9/2021).

Ia mengungkapkan, penambahan jumlah desa mandiri menunjukkan adanya kemajuan pembangunan desa di Kudus. Baik di sektor formal maupun informal.

“Tahun 2019 lalu baru ada delapan (desa mandiri), kemudian berkembang menjadi 12 di tahun selanjutnya dan ini sekarang jadi 17 desa atau bertambah lima desa,” ujarnya.

Adapun lima desa yang baru ditetapkan sebagai desa mandiri tahun ini, yakni Desa Klumpit, Mijen, Janggalan, Nganguk, dan Undaan Lor.

Adi mengatakan, penetapan desa mandiri melalui pemutakhiran data Indeks Desa Membangun (IDM). Persyaratannya sendiri, terbilang banyak.

Melalui penilaian dari IDM tersebut, kemudian akan muncul lima klasifikasi desa. Yakni desa miskin, sangat miskin, berkembang, maju dan mandiri.

“Penggunaan Dana Desa selama ini menjadi faktor penentu, di antaranya program kegiatan yang dilaksanakan selama ini benar-benar memberikan dampak positif atau tidak,” terangnya.

Desa yang menyandang status desa mandiri, lanjut dia, memiliki keuntungan tersendiri. Salah satunya dalam pencairan Dana Desa yang hanya dilakukan dua tahap saja. Dengan komposisi tahap pertama 50 persen dan tahap kedua 50 persen.

Sedangkan desa lainnya harus melalui tiga tahap, yakni tahap pertama 40 persen, tahap kedua 40 persen dan terakhir 20 persen.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...