Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penyidik KPK Nonaktif Sebut Harun Masiku Masih di Indonesia

Harun Masiku (Dok/RRI.co.id)

MURIANEWS, Jakarta – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Ronald Sinyal mengungkapkan buronan dan politisi PDI Perjuangan, Harun Masiku masih berada di Indonesia pada Agutus 2021.

Namun, dia tidak bisa melanjutkan pencarian karena status nonaktifnya berdasarkan SK Pimpinan KPK No 652 tahun 2021 pertihal tindak lanjut bagi pegawai yang dinyatakan tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Seperti diketahui, Harun Masiku merupakan buronan kasus dugaan suap penetapan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI 2019-2024. Kasusnya menyeret mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan yang telah ditangkap.

“Info yang saya punya Agustus kemarin masih di Indonesia,” kata Ronald dikutip dari CNN Indonesia (6/9/2021).

Sebelumnya, dalam konfrensi pers, Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto menyebut mendapat keberadaan Harun di luar negeri. Penangkapan urung dilakukan lantaran terganjal kondisi Pandemi Covid-19.

Karyoto mengaku bernafsu menangkap eks calon legislatif PDIP tersebut. Ia mengklaim Ketua KPK Firli Bahuri sudah memberi perintah secara langsung untuk menangkap Harun yang kabur sejak Januari 2020.

“Saya sangat nafsu sekali ingin menangkap kalau diperintah. Waktu itu pak ketua sudah memerintahkan ‘kau berangkat’, tapi kesempatannya belum ada,” kata dia, Selasa (24/8/2021).

Harun Masiku sendiri sudah masuk dalam dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 27 Januari 2020. Beberapa pekan setelah ditetapkan sebagai DPO, tikus berdasi ini lolos dari penangkapan. Setahun lebih berlalu, lembaga antirasuah belum juga berhasil menangkap Harun.

Bahkan, KPK sudah meminta bantuan Sekretariat National Central Bureau (NCB)-Interpol Indonesia untuk menangkap Harun. Interpol pun menerbitkan red notice, di mana, Harun Masiku telah ditetapkan sebagai buronan internasional. Tapi, hingga 10 Agustus, Interpol menyatakan posisi Harun masih belum terlacak.

Sekretaris NCB-Interpol Indonesia, Brigjen Amur Chandra Juli Buana, menuturkan sejak sebulan Red Notice terbit, sejumlah negara di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik telah merespons namun masih belum mendeteksi keberadaannya.

Harun ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga menyuap mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan agar bisa ditetapkan sebagai pengganti Nazarudin Kiemas yang lolos ke DPR, namun meninggal dunia.

Harun diduga menyiapkan uang sekitar Rp850 juta untuk pelicin agar bisa melenggang ke Senayan. Ia buron sejak Januari 2020.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...