Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bobol PeduliLindungi, Dua Orang di Jakarta Utara Ditangkap

Ilustrasi PeduliLindungi. (MURIANEWS/Zulkifli Fahmi)

MURIANEWS, Jakarta – Polda Metro Jaya menangkap dua orang di wilayah hukumnya. Satu orang berinisial HH yang merupakan staf Kelurahan Muara Karang, Jakarta Utara dan seorang karyawan swasta, FH. Keduanya ditangkap lantaran melakukan akses ilegal dan mencuri data di aplikasi PeduliLindungi.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, Jumat (2/9/2021) mengatakan dua tersangka itu memanfaatkan situasi di mana masyarakat masyarakat ingin mendapatkan sertifikat vaksin. Seperti diketahui, sertifikat vaksin menjadi syarat untuk melakukan perjalanan hingga berkunjung di pusat perbelanjaan.

Tersangka HH kemudian melakukan akses secara ilegal untuk mendapatkan data kependudukan ada NIK. Dia yang bekerja sebagai staf di kelurahan mendapatkan keleluasaan untuk mencomot data-data itu.

“Yang bersangkutan adalah pegawai pada Kelurahan di Muara Karang, dia paham betul bahwa untuk bisa mendapatkan sertifikat vaksin dan bisa dipergunakan dalam PeduliLindungi disyaratkan dua hal tersebut,” tutur Fadil, dikutip dari CNN Indonesia.

Data-data dari HH itu kemudian diolah FH untuk menjadi sertifikat vaksin palsu. Sertifikat paslu itu kemudian ditawarkan ke masyarakat yang ingin leluasa jalan-jalan mejeng sana-sini melalui media sosial facebook bernama Tri Putra Heru.

Dalam unggahannya itu, ia menawarkan kepada orang-orang yang ingin mendapat sertifikat vaksin tanpa harus menjalani vaksinasi. “Akun tersebut menjual sertifikat vaksin tanpa melalui vaksinasi dan bisa langsung terkoneksi PeduliLindungi dengan harga kartu satu sertifikat vaksin Rp370 ribu,” ujar Fadil.

Dalam kasus ini, polisi turut menangkap dua orang pemesan sertifikat palsu, yakni AN dan DI. Keduanya membeli sertifikat vaksin palsu itu seharga Rp350 ribu dan Rp500 ribu. “Alasannya (membeli) dia ingin bebas untuk ke mana-mana,” ucap Fadil.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 30 dan atau Pasal 32 UU ITE dengan ancaman enam tahun penjara dan denda sebanyak Rp600 juta.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...