Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

MUI: Vaksin Pfizer Haram tapi Diperbolehkan, Karena Darurat

Ilustrasi Vaksin Pfizer-BioNTech (AFP/Justin Tallis)

MURIANEWS, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia telah memfatwakan haram pada vaksin Covid-19 produksi Pfizer-BioNTech. Meski begitu, vaksin tersebut diizinkan untuk digunakan karena kondisi darurat pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Dewan Halal Nasional MUI, Muhammad Nadratuzzaman Hosen mengatakan kini ada dua jenis vaksin Covid-19 yang telah difatwakan haram, yakni Pfizer dan AstraZeneca.

“Untuk Pfizer dan AstraZeneca kan diketahui haram. Haram tapi boleh digunakan karena ada kebutuhan dan keadaan darurat,” kata Nadratuzzaman, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (1/9/2021).

Terkait fatwa lengkap dari vaksin Pfizer, MUI akan merilisnya ke publik dalam waktu dekat. Namun, keputusan soal fatwa sudah dirapatkan MUI sejak beberapa hari lalu.

“Sekarang sedang membenahi redaksinya dan lain-lain,” kata dia.

Kendati begitu, Nadratuzzaman meminta umat Islam tidak perlu risau menggunakan vaksin Pfizer. Dia menegaskan, vaksinasi merupakan upaya dan ikhtiar bersama umat Islam untuk mencegah virus corona.

Menurutnya, upaya untuk melindungi nyawa sangat diutamakan di tengah pandemi saat ini. Karena itu, MUI berprinsip pada rukhsah atau keringanan saat mengeluarkan fatwa terkait vaksin.

“Haram tapi diperbolehkan, karena darurat dan kebutuhan,” ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sempat mengungkap bahwa fatwa MUI menunjukkan vaksin Pfizer terdapat unsur najis dalam kandungannya.

Meski demikian, ia mengatakan MUI tetap memperbolehkan penggunaan vaksin tersebut karena saat ini Indonesia dalam kondisi darurat virus corona.

“Soal kehalalan vaksin betul, jadi memang keluar beberapa hari ini keluar fatwa terkait itu tiga vaksin, AstraZeneca, Pfizer sama Moderna yang keluar dari MUI itu yang dinyatakan boleh, tapi najis, najis tapi boleh. Ya dengan adanya kedaruratan,” kata Yaqut saat menggelar rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Senin (30/8) lalu.

MUI baru merilis fatwa untuk dua vaksin produksi asal China Sinovac dan Sinopharm serta vaksin Astrazeneca ke publik.

Untuk vaksin Sinovac, MUI mengeluarkan fatwa halal. Sedangkan vaksin Sinopharm dan Astrazeneca dikeluarkan fatwa haram namun masih diperbolehkan untuk digunakan karena dalam kondisi darurat.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...