Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Seniman Salatiga Lukis Jokowi Mirip Pak Harto, Ternyata Ini Alasannya

Tangkap layar lukisan Jokowi mirip dengan Pak Harto. (Tangkap Layar Instagram/@brambotkusuma)

MURIANEWS, Salatiga – Unggahan instagram @brambotkusuma mendadak viral di media sosial. Hal itu setelah akun yang diketahui milik seorang seniman asal Salatiga itu mengunggah foto lukisan yang memperlihatkan seseorang sedang melukis sosok mirip Presiden Jokowi, namun pada kanvasnya terpampang wajah mirip Presiden Soeharto.

Lukisan tersebut diketahui diunggah Sabtu (28/8/2021). Hingga Senin (30/8/2021) pukul 15.09 WIB sudah dilihat 11.776 kali dan sudah dikomentari 413 netizen.

Dalam unggahannya, Brambot Kusuma menuliskan caption dengan bahasa Jawa: Pancen angel gambar rahi ki, ra tau iso mirip. Tambah meneh nek gambare langsung, hadeh soyo ra mirip, soyo bubrah, soyo ngewel. Wis wis ncen ra bakat.

Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia caption tersebut berbunyi memang sulit menggambar wajah, tidak pernah bisa mirip. Apalagi kalau Digambar langsung, semakin tidak mirip. Memang enggak bakat.

Dikutip dari Suara.com, Brambot tidak menyangka lukisannya menjadi viral di media sosial. Dia mengatakan lukisan Jokowi mirip Pak Harto itu dikerjakan selama tiga jam.

“Mengira sih tidak, karena seperti biasanya saya ketika ada ide langsung segera di eksekusi,” jelasnya, Senin (30/8/2021).

Brambot pun menjelaskan, lukisan itu dibuat karena terinspirasi kondisi saat ini. Dia mengaku prihatin dengan sikap pemerintah yang berlebihan terhadap karya-karya mural yang bermuatan kritik terhadap rezim saat ini.

“Bahkan bentuk intimidasi-intimidasi dilakukan, yang notabene bukan ’penjahat’,” ujarnya.

Brambot pun mengaku ada ketakutan yang muncul setelah membuat lukisan tersebut. Tetapi, selama kritikannya berangkat dari data-data dia berani mempertanggung jawabkan karyanya.

“Sampai sekarang belum ada intimidasi dan jika saya sampai ditangkap atau ada bentuk intimidasi, apa tidak semakin memperjelas bahwa pemerintah saat ini antiktitik dan selalu bertindak represif,” paparnya.

Seniman asal Salatiga ini sadar betul pasti ada pro dan kontra berkaitan dengan karyanya. Dia ingin bermain semiotika, bagi yang “rindu romantismenya”  zaman Orde Baru, mengintepretasikannya pemerintah saat ini memiliki “kebaikan-kebaikan,” prestasi-prestasi yang sama dengan orba.

Sementara, bagi yang “melawan” kondisi sekarang tak jauh bedanya dengan masa orba, yang mana salah satunya sikap represif pemerintah terhadap rakyatnya yang kritis.

“Dua pesan itu yang ingin saya sampaikan pada karya saya. Tapi tidak menutup kemungkinan, intepretasi yang berbeda-berbeda yang diartikan bagi orang melihatnya,” jelasnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Suara.com

Comments
Loading...