Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ramai Penyebutan Koruptor Diganti Maling

Ilustrasi Korupsi. (beritagar.id/Kiagus Aulianshah)

MURIANEWS, Jakarta – Wacana penggunaan frasa penyintas korupsi bagi terpidana korupsi diprotes banyak pihak. Rencana penyebutan itu sendiri disampaikan Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Wawan Wardiana. Namun belakangan KPK meluruskan hal tersebut.

“Istilah penyintas dalam konteks sebagai korban korupsi tentu kurang tepat disematkan kepada mereka. Kita perlu akhiri polemik istilah penyintas ini. Kami meyakini, penanaman nilai-nilai integritas antikorupsi bisa menjadi benteng pengendalian diri dari niat jahat untuk melakukan perbuatan korupsi,” ujar Plt Juru Bicara Bidang Pencegahan KPK Ipi Maryati dalam keterangan tertulis, dikutip dari Tirto.id, Senin (30/8/2021).

Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM Zaenur Rohman pun menilai penyebutan koruptor sebagai penyintas adalah sebuah kekeliruan. Kata penyintas yang disematkan pada korupsi tidak sesuai dengan kontesnya.

“KPK telah melecehkan pengertian penyintas. Maknanya telah diselewengkan KPK menjadi pelaku. Tidak pantas koruptor disebut penyintas,” ujarnya.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata penyintas memiliki arti orang yang mampu bertahan hidup.

“Yang bertahan hidup bukan koruptornya. Tetapi masyarakat luas sebagai pihak yang dirugikan akibat korupsi,” lanjut Zaenur.

Sementara itu, Najwa Shihab dalam postingan di instagramnya, menilai sederet kebijakan dan perlakuan terhadap pencuri uang rakyat semakin lunak. Bahkan, para koruptor kerap mendapatkan keistimewaan sejak proses pengusutan hingga saat mereka di penjara.

“Belum lama KPK bahkan menggunakan istilah “penyintas korupsi” untuk para maling ini. Penyintas itu artinya korban. Yang maling mereka, kok yang jadi korban mereka juga? Plis deh,” tulis Najwa.

Najwa pun teringat dengan perkataan ayahnya, Quraish Shihab, tiga tahun lalu. Saat itu, Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII itu mengatakan Koruptor itu terlalu halus, sebut saja pencuri. “Mulai sekarang, saya akan ikut kata Abi. Sebut saja mereka pencuri,” kata Najwa.

Selebgram Arief Muhammad juga turut menyuarakan protes itu. Dia mengunggah tangkap layar dari sebuah artikel di Kompas.com, yang menuliskan ‘Komplotan Lima Maling yang Dipimpin Seorang Menteri’.

“Mari kita apresiasi media yang mengganti kata ‘koruptor’ dengan ‘maling’ seperti ini. Rasanya memang lebih pantas. Mulai sekarang pelan-pelan kita biasakan juga memanggil koruptor dengan sebutan maling,” tulisnya.

Baru-baru ini, forum pimred dari 170 media yang tergabung dalam Pikiran Rakyat Media Network sepakat mulai Senin (30/8/2021) mengganti kata koruptor dengan maling, rampok serta garong uang rakyat. Sikap itu didasari karena menganggap diksi korupsi tidak mempermalukan atau membuat pelaku merasa malu.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: tirto.id, kompas.com, pikiran-rakyat.com

 

Comments
Loading...