Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Keluh Kesah Pembuat Gula Tumbu di Kudus yang Tak Berdaya di Hadapan Tengkulak

Pekerja membuat gula tumbu di Desa Gondangmanis, Kabupaten Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Mohammad Zudi memulai usaha membuat gula tumbu sejak 2010 silam. Dia memilih menjadi perajin gula tumbu lantaran saat itu bisnis ini cukup menjanjikan, dan ia sudah punya bekal pengalaman.

Gula tumbu merupakan gula merah berbahan dasar air tebu yang diolah secara tradisional.

Ditemui MURIANEWS di brak atau tempat pembuatan gula tumbu, di RT 06, RW 09, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Zudi menjelaskan awalnya dia ikut orang untuk menjadi perajin gula tumbu.

Di tempat pembuatan gula itu terdapat beberapa kuali. Di situ ada empat pekerja yang tampak sibuk. Dua pekerja menggiling tebu, dua lainnya membolak-balikkan kuali.

“Tahun 2000 saya ikut orang. Kemudian tahun 2010 nyoba usaha sendiri membuat produksi gula tumbu,” katanya, Sabtu (28/8/2021).

Gula hasil perebusan air tebu dituangkan ke keranjang agar mengeras dan siap dijual. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Keinginannya membuat produksi gula tumbu lantaran dia sudah mengetahui seluk beluknya. Saat itu dia memulai menanam tebu sendiri, menggiling tebu sendiri hingga menyewa lahan dengan sistem perpanjang per dua tahun.

Kendati sudah memiliki usaha gula tumbu sendiri, tidak serta merta segalanya berjalan mulus. Harga yang tidak stabil yanag diduga akibat permainan tengkulak sering dialaminya.

Tahun ini harga gula tumbu per kilogram hanya Rp 7.700. Jumlah tersebut memang lebih banyak jika dibandingkan dengan harga tahun 2020 lalu yang hanya sebesar Rp 7500.

Namun, besaran harga tersebut belum membuatnya mendapatkan keuntungan yang signifikan. Terlebih jika dibandingkan tahun 2019 silam, harga gula tumbu per kilogramnya bisa terjual mencapai Rp 9.500.

“Paling tidak saya bisa dikatakan untung kalau harga gula tumbu terjual per kilogramnya Rp 8 ribu. Tetapi selama ini kan kalau menjual ke tengkulak tidak bisa segitu,” ujarnya.

Menurutnya, setiap kali musim panen tebu, harga gula tumbu justru turun. Harga akan naik ketika tak musim panen raya.

Permainan tengkulak itulah yang membuatnya merasa sulit mendapatkan keuntungan. “Pusing karena harga jual rendah tidak sesuai dengan operasional,” akunya.

Menurutnya biaya operasional untuk pupuk, membayar tenaga kerja, dan biaya operasional per kotak sawah berukuran 1.400 meter persegi, per musimnya (11 bulan) mencapai Rp 2 juta. Sedangkan pendapatnya Rp 4 juta.

“Jumlah tersebut itu belum bisa disebut untung. Karena seharusnya pendapatan saya bisa mencapai Rp 6 juta per musimnya jika kondisi sedang bagus. Saya tidak tahu apakah karena pupuknya atau karena musimnya.” imbuhnya.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...