Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ramai Bahas Covid-22, Satgas: Nggak Masuk Akal

Ilustrasi (Pixabay)

MURIANEWS, Jakarta – Belakangan, di media sosial ramai membahas beredarnya varian Covid terbaru, yakni Covid-22. Santer disebut, varian ini lebih berbahaya dari pada varian Delta, yang ditemukan di India.

Perbincangan itu mulanya beredar di Amerika, Selasa (24/8/2021). Kemajuan teknologi informasi pun turut membawa kabar itu ke Indonesia.

Menanggapi itu, Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19, Hery Trianto menyebut informasi itu tak masuk akal. Ia menyebut, penamaan penyakit Covid-19 atau angka belakang pada Covid-19 merujuk pada tahun ditemukannya virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 ini.

“Sekarang masih tahun 2021, rasanya tidak masuk akal bila kita telah menemukan varian ataupun virus untuk 2022, kecuali ada yang telah menggunakan mesin waktu,” ujar Hery, dikutip dari Kompas.com, Jumat (27/8/2021).

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai begitu saja informasi yang beredar di media sosial. “Ya masyarakat ya mesti secara hati-hati menyerap setiap informasi yang masuk. Harus benar-benar dibedakan mana informasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan mana informasi palsu,” lanjut dia.

Istilah Covid-22 muncul dari apa yang disampaikan oleh Profesor imunologi di ETH Zurich, Swiss, Sai Reddy. Diketahui, Reddy memperingatkan, varian baru Covid yang dapat menimbulkan risiko besar kemungkinan akan muncul pada 2022.

“Covid-22 bisa lebih buruk dari yang kita saksikan sekarang,” ujar Reddy, dalam laporan The Sun.

Tak hanya varian Covid-22, Reddy juga menggunakan istilah Covid-21. Menurut dia, Covid-21 merujuk pada varian Delta yang saat ini tersebar di beberapa negara di Eropa, AS, maupun Asia.

Di sisi lain, Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan di City University of New York (CUNY) Bruce Y. Lee memaparkan penggunaan istilah Covid-21 yang merujuk pada varian Delta adalah keliru. Ia pun kemudian menjelaskan beberapa alasan kekeliruan tersebut.

Pertama, perlu diketahui bahwa varian Delta pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020, bukan 2021. Kedua, varian Delta merupakan hasil mutasi dari virus SARS-CoV-2 asli yang menyebabkan penyakit Covid-19. Ketiga, saat ini tidak ada Covid-22 karena tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi di tahun mendatang.

“Jadi, tidak boleh digunakan istilah Covid-21 untuk menggambarkan varian Delta. Jika memang ingin menggunakan angka untuk menggambarkan varian Delta, bisa disebut varian B.1.617.2 yang merupakan istilah lainnya,” lanjut Lee.

Kemungkinan munculnya varian baru di 2022 Lee menambahkan, ada kemungkinan tahun depan muncul varian yang lebih menular ketimbang Delta. Namun, hal ini masih kemungkinan saja.

Ia menjelaskan selama virus terus bereproduksi dan menyebar, munculnya varian baru yang lebih buruk dimungkinkan dapat terjadi. Selain itu, setiap kali virus berkembang biak di dalam sel seseorang, ia dapat melakukan mutasi pada kode genetik virus yang dihasilkan. Adapun mutasi itu dapat membuat virus lebih lemah atau lebih kuat.

“Selama struktur protein spike pada virus tidak terlalu banyak berubah, perlindungan dari vaksin masih mampu menjaga agar situasi tidak lebih buruk,” ujar Lee.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Kompas.com

Comments
Loading...