Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

MUI: Pinjol Cenderung Mudarat Ketimbang Manfaat

Ilustrasi pinjaman uang. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)

MURIANEWS, Jakarta – Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanuddin AF menegaskan praktik pinjaman online (pinjol) cenderung banyak mudaratnya (keburukannya) dari pada manfaatnya bagi pihak yang meminjam dana.

Menurutnya, saat ini banyak nasabah yang merasa dirugikan usai meminjam dana melalui pinjol. Sebab, bunga dari pinjaman itu perlahan akan berlipat ganda. Di samping itu, penagihannya juga dilakukan dengan cara pemaksaan.

Kondisi meminjam dengan sistem bunga yang berlipat ganda dan cara-cara pemaksaan itu tak sesuai syariat Islam. “Yang jadi masalah kan dharar-nya itu. Banyak mudaratnya. Apalagi sistem bunga itu. Itu jelas. Pinjam sekian, bunganya sekian. Jelas-jelas ga syariah,” katanya dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (27/8/2021).

Baca juga: Terlilit Pinjol, Karyawan Bank Gantung Diri di Kantor

Hasanuddin mengungkapkan MUI terbuka untuk membuat fatwa halal/haramnya praktik pinjol itu. Sebab, sudah banyak masyarakat yang mengeluh dan merasa dirugikan dari praktik peminjaman uang secara daring itu.

“Ya kita siap aja. Kalau ada kelompok masyarakat, pemerintah siapa pun boleh aja ajukan atau minta fatwa soal Pinjol, kita siap,” kata Hasanuddin.

Menurutnya, ada tiga sifat pengajuan fatwa ke MUI. Pertama responsive, di mana MUI membahas persoalan-persoalan yang diajukan masyarakat untuk dibahas menjadi sebuah fatwa.

Baca juga: Warga Boyolali Terjerat Pinjaman Online, Utang Rp 900 Ribu Bayar Rp 75 Juta

Kemudian, fatwa proaktif yang disusun dengan inisiasi dari internal MUI sendiri untuk merespons persoalan tertentu. Tak hanya menunggu masyarakat, Ia mengatakan MUI juga bisa berinisiatif sendiri untuk membuat fatwa soal Pinjol.

“Bisa jadi, nanti kita bahas. Kalau ada anggota MUI yang minta fatwa (soal Pinjol0. Karena meresahkan masyarakat. Kadang kala ada inisiasi MUI sendiri,” kata dia.

Baca juga: Pinjaman Online: Untung atau Buntung?

Merespons MUI, Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah menyatakan tidak semua perusahaan pinjol membebankan bunga berlipat ganda. Anggotanya, kata dia, tidak melakukan hal itu yang disebutnya sebagai ‘predatory lending‘.

“Kami pastikan bahwa atas praktik predatory lending seperti itu kami juga setuju. Bahwa itu harus disetop, diberantas, dihentikan. Karena bagi fintech atau pinjol anggota kami tidak diperbolehkan melakukan praktik demikian,” kata Kuseryansyah.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...