Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Pengidap HIV/AIDS Boleh Lho Divaksin Covid, Ini Syaratnya

Vaksin Covid-19. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) saat ini belum menjadi prioritas penerima vaksin Covid-19. Namun, kelompok ini bisa mendapatkan suntikan vaksin, jika memenuhi ketentuan yang ada.

Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kudus, dr Dony Wicaksana menjelaskan, ada beberapa persyaratan bagi ODHA yang ingin disuntik vaksin Covid-19. Salah satunya kondisi ODHA itu harus melewati fase akut, dan mengikuti pengobatan yang teratur.

“Fase akut tersebut misalnya yang bergejala demam, diare, atau sariawan yang tidak kunjung turun tidak boleh divaksin dulu. Kalau fase akut itu sudah terlewati tidak masalah,” katanya, Jumat (27/8/2021).

Dokter Dony melanjutkan, syarat lainnya harus dilihat dari CD4 seseorang yang mengidap HIV/AIDS. Diketahui, CD4 merupakan sel kekebalan tubuh bagi ODHA.

“Kalau kekebalan orang tersebut kurang dari 200 tidak boleh diberikan vaksinasi. Karena sudah diterapkan syarat wajib CD4 harus lebih dari 200,” ujarnya.

Baca: Wisatawan Luar Daerah Wajib Vaksin Jika Ingin Piknik di Kudus

Namun, CD4 tersebut bukanlah satu-satunya takaran bagi ODHA untuk divaksin. Syarat lainnya yang harus diperhatikan yakni mengacu pada uji klinis seseorang pengidap ODHA itu.

“Misal CD4 ODHA tersebut sudah 200 tetapi dia masih ada gejala diare sampai satu bulan, kemudian ada demam dan sariawan itu belum boleh divaksin. Jadi jangan hanya berpedoman pada CD4 nya saja. Karena kalau masih ada gejala sakit dan tetap dipaksa divaksin bisa ngedrop,” sambungnya.

Baca: Difabel hingga ODGJ di Kudus Mulai Divaksin Sinopharm

Ia menyebut, World Health Organization (WHO) sudah mengizinkan vaksinasi bagi ODHA. Namun yang disarankan hanya dua jenis vaksin, yakni Sinovac dan Sinopharm. Kedua jenis vaksin itu sudah ada riset dan uji rekomendasi.

“Kalau vaksin jenis lainnya bukannya tidak boleh, tetapi belum ada uji rekomendasinya. Sejauh ini yang sudah direkomendasi baru Sinovac dan Sinopharm,” terangnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...