Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Balai Desa Lau Kudus Digeruduk Warganya Sambil Bawa Tulisan Copot Kadus

Warga menggeruduk Balai Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Puluhan warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus menggeruduk balai desa setempat, Kamis (26/8/2021). Kedatangan mereka, untuk meminta kejelasan terkait kinerja Kepala Dusun (Kadus) III Diantoro Teguh Imanto yang dinilai sangat tak layak.

Mulai dari kinerjanya sebagai ketua kepengurusan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) hingga kepengurusan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).

Puluhan warga desa tersebut mendatangi balai desa dan membawa kertas yang bertuliskan “Copot Kadus III” sampai “Usut Korupsi Desa Lau”. Tak berselang lama, mereka pun difasilitasi audiensi di aula Balai Desa Lau.

Ketua RW 4 Sofwan Arif menjelaskan,  pamsimas mulai beroperasi sekitar dua tahun lalu. Berjalannya waktu, pamsimas yang ada kerap mengalami kerusakan hingga pada awal tahun ini pamsimas tersebut berhenti beroperasi.

“Mulai mandek sekitar lima bulan lalu. Alasannya karena terjadi kerusakan. Kami pengguna pamsimas sempat dimintai iuran perbaikan sebesar Rp 50 ribu (peranggota), tapi sampai sekarang belum jalan juga,” katanya.

Tak hanya itu, Sofwan mengaku warga sudah mengeluarkan uang banyak untuk progam pamsimas di daerahnya. Di mana pada saat pendaftaran warga diminta membayar Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta.

Baca: Wisatawan Luar Daerah Wajib Vaksin Jika Ingin Piknik di Kudus

Kini warga menuntut tranparasi dalam penggunaan keuangan pamsimas dan juga meminta agar pamsimas bisa kembali beroperasi. Selain itu, lanjut dia, tupi pajak atau SPPT juga sudah empat tahun lamanya tidak dibagikan oleh kadus tersebut.

“Jadi masyarakat mau bayar tidak ada alat bayar, dan tidak bisa bayar serta terkena denda. Akhirnya kami tuntut agar Kadus III bisa membayar denda SPPT dan mengelola pamsimas dengan transparansi keuangan yang baik dengan kesepakatan hitam di atas putih bermaterai,” ujarnya.

Jika hal tersebut tidak dipenuhi, warga meminta agar Kadus III turun atau dicopot dari jabatan.

Senada Ketua RT 3/RW 4 Suroni Sugiarto juga menyebut, tupi pajak tersebut sudah tidak pernah dibagikan semenjak tahun 2017-2020. Padahal kadus tersebut telah berulang kali didatangi dan dimintai tupi pajak tersebut, agar masyarakat bisa membayar dan tidak terkena denda, namun hanya janji yang didapat.

“Akhirnya tahun 2021 itu mau dibagikan, warga menolak karena selama ini sudah tidak diberi dan hanya janji-janji saja,” ucapnya

Terlebih, ada juga salah seorang warga lain yang mengaku dalam proses pemecahan tanah ahli waris/hibah/akta jual beli tidak segera terealisasi. Hingga beberapa warga juga ada yang menyebut mendapatkan perlakuan yang dinilai arogan dari kadus tersebut.

Baca: Siswa-Siswa Terbaik di Kudus Melaju ke FLS2N Tingkat Nasional, Salah Satunya dari SMP Al Ma’ruf

Sementara Kepala Desa  Lau Rawuh Hadiyanto mengakui jika ada ketidaknyamanan masyarakat dalam sistem pelayanan, terutama yang dilakukan oleh  Kadus III. Untuk itu pihaknya menerima dan memfasilitasi adanya audiensi tersebut agar bisa dicari jalan keluarnya.

“Ini pembenahan administratif dan adanya miss pelayanan. Sehingga masyarakat memang perlu kejelasan, dan masing-masing sudah bisa menerima. Setelah ini, segala jenis pelayanan yang berkaitan dengan pemerintahan akan berjalan normal kembali,” terangnya.

Ia menambahkan, yang bersangkutan (Kadus III) sudah bertanggungjawab dan bersedia membayar jika memang ada denda terkait pembayaran pajak. Sementara terkait pamsimas diakuinya memang banyak masalah dan kendala selama beroperasi.

“Untuk denda ditanggung semua sama Kadus III,  jadi tidak ada tanggungan lain dari masyarakat selain wajib pajak. Pamsimas tidak ada masalah korupsi atau apa, cuma yang belum diinformasikan. Ini masyarakat minta transparansi pembukuan saja,” jelasnya.

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...