Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Duh! Tata Kota Jakarta Terburuk Dunia

Potret kawasan kumuh di Jakarta (dok. Akurat.co)

MURIANEWS, Jakarta – Tata kota Ibu Kota Negara, DKI Jakarta disebut yang terburuk di dunia. Penilaian itu diberikan media yang mengulas arsitektur, Rethinking The Future (RTF), belum lama ini.

Menurut media itu, catatan buruk itu disebabkan beberapa faktor. Mulai dari kepadatan penduduk dengan udara dan air yang tercemar, kemudan ruang terbuka hijau yang tidak memadai, kemacetan yang ekstrem dan perluasan kota yang tidak terencana.

Selanjutnya, pembangunan infrastruktur yang berada di tangan pemerintah daerah berdampak mengurangi kemungkinan pelaksanaan proyek jangka panjang.

Menanggapi itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan setiap gubernur menginginkan Ibu Kota yang bersih dan rapi. Dia mengaku pemerintah DKI Jakarta sudah berbuat sebaik mungkin untuk memastikan Jakarta menjadi kota yang bersih dan rapi.

“Dari Gubernur Ali Sadikin sampai Anies Baswedan menginginkan Ibu Kota bersih dan rapi. Kami berbuat sebaik mungkin untuk memastikan Jakarta menjadi kota yang bersih, rapi, indah, keren,” kata Wagub DKI dikutip dari Tempo.co, Rabu (25/8/2021).

Riza Patria tidak mempermasalahkan jika desai perencanaan Jakarta dianggap yang terburuk. Menurutnya, pemerintah DKI akan mempelajari temuan itu. “Itu hak mereka,” ujar politikus Partai Gerindra ini.

Sementara itu, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi menyatakan memang masih ada kawasan kumuh sehingga tata kota Jakarta dianggap yang terburuk di dunia. Dia mengatakan pemerintah DKI harus memperbaiki masalah daerah kumuh dan tata kota Jakarta.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga menilai Jakarta mendapatkan penilaian terburuk karena pelanggaran tata ruang. Nirwono mengatakan, pembangunan kota Jakarta sangat tergantung pada kebijakan gubenurnya, bukan pada rencana tata ruang yang dibuat oleh Pemprov DKI.

Menurutnya, jika dibiarkan, justru mendorong Jakarta menuju bunuh diri ekologis. Contohnya, ancaman Jakarta tenggelam dan banjir tahunan. Namun ancaman itu tidak ditindaklanjuti. Bahkan, pembenahan sungai berhenti pada masa jabatan Gubernur DKI Anies Baswedan.

“Gubernur DKI sebaiknya fokus pada rencana tata ruang kota yang sudah ada, patuhi dan laksanakan. Jangan memberi contoh melanggar apalagi memutihkan pelanggaran tata ruang,” ujarnya, dikutip dari Tempo.co.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Tempo.co

Comments
Loading...