Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jembatan Bambu Sasak Perbatasan Kudus-Demak, Warga Rela Bayar Daripada Memutar

 MURIANEWS, Kudus – Jembatan sasak yang berada di perbatasan antara Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus, dan Desa Kedungwaru Lor, Demak menjadi pilihan warga di dua kabupaten tersebut. Mereka rela membayar Rp 2 ribu tiap kali melintas daripada harus jalan memutar.

Lokasi jembatan ini bisa ditemui di sebelah selatan SDN 1 Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus. Panjang jembatan sasak 18 meter dengan lebar satu meter.

Arifin, warga Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus, mengaku lebih senang melewati Jembatan Sasak. Karena bisa lebih cepat 30 menit daripada lewat Tanggulangin.

“Saya dari Pasar Tugu Demak mau pulang ke Kudus lebih enak lewat sini karena paling hanya 10 menit. Kalau saya lewat Tanggulangin bisa setengah jam,” katanya, Selasa (24/8/2021).

Ia mengaku sudah 19 tahun melintas di jembatan ini saat musim kemarau. Karena jembatan ini tak bisa dilewati saat musim hujan karena debit Sungai Wulan yang tinggi.

“Sangat membantu perekonomian saya juga. Tidak masalah walau harus bayar dua ribu rupiah. Daripada harus muter lewat Tanggulangin durasinya 30 menit,” terangnya.

Warga lainnya, Purwanto yang berasal dari Demak mengaku sudah memanfaatkan jembatan sasak sejak beberapa tahun lalu. Dia merasa terbantu karena bisa memangkas waktu lebih cepat.

Sementara itu Kades Setrokalangan, Didik Handono mengatakan jembatan sasak tersebut merupakan jembatan musiman. Keberadaannya memang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Kalau musim hujan menyeberangnya pakai perahu. Kalau kemarau menyeberangnya lewat jembatan,” terangnya.

Baca: Melintas Jembatan Sempit dari Bambu Ini Warga Kudus dan Demak Harus Bayar Rp 2 Ribu

Ia menyebut, uang yang terkumpul dari warga yang melintas semuanya masuk ke kantong penjaga pos. Di situ terdapat satu pos penjaga yang bertugas menarik tarif.

“Uangnya tidak masuk kas desa. Itu sebenarnya jembatan milik salah seorang warga Desa Setrokalangan. Sudah turun temurun diurus salah seorang warga Desa Setrokalangan,” jelasnya.

Ditanya soal membuat jembatan menjadi permanen, hal itu pernah diusulkan oleh pemerintah desa sebelumya pada 2015 silam.

“Sudah pernah diusulkan tetapi karena daerah situ sebenarnya masih bisa diakses lewat jalan lain, akhirnya tidak terealisasi. Selain itu pernah dihitung dari segi akses keuntungan perekonomian tetapi tidak masuk, sehingga tidak terealisasikan,” tandasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...