Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Melintas Jembatan Sempit dari Bambu Ini Warga Kudus dan Demak Harus Bayar Rp 2 Ribu

Warga melintasi jembatan sasak yang terdapat di perbatasan Desa Setrokalangan, Kudus dengan Kedungwaru Lor, Demak. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Deretan bambu tertata rapi membentuk jembatan di perbatasan antara Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus, dan Desa Kedungwaru Lor, Kabupaten Demak. Jembatan dengan landasan dari barisan papan tersebut dikenal dengan nama Jembatan Sasak.

Lokasi jembatan ini bisa ditemui di sebelah selatan SDN 1 Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus. Panjang jembatan sekitar 18 meter dengan lebar satu meter.

Jembatan yang ditopang dari kayu itu melintang berada di atas Sungai Wulan. Meski sempit dan terkesan rentan, namun tiap hari jembatan ini sangat ramai dilintasi warga di dua kabupaten tersebut.

Walaupun untuk melintasi jembatan ini tidaklah gratis. Pengendara sepeda motor harus merogoh kocek Rp 2 ribu untuk melintas.

Salah seorang warga asal Demak, Siti mengatakan meski harus membayar namun keberadaan jembatan sangat membantu dirinya untuk bekerja. Dia berasal dari Demak dan bekerja di salah satu pabrik rokok di Kudus.

Pengendara membayar ke penjaga saat melintas di Jembatan Sasak yang menghubungkan Kudus-Demak. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Pasalnya, jika harus melintas di jalan utama ia harus berputar dan membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Sangat membantu karena kalau harus lewat Tanggulangin justru lebih lama. Karena saya jam lima pagi sudah harus berangkat bekerja,” katanya, Selasa (24/8/2021).

Sementara itu, salah seorang penjaga jembatan menjelaskan, Jembatan Sasak tersebut sudah puluhan tahun menjadi jalan pintas bagi warga. Mereka merupakan warga Demak maupun warga Kudus.

Namun jembatan ini hanya bisa digunakan saat musim kemarau saja, saat air sungai tak terlalu tinggi.

“Kalau kemarau jembatannya bisa dilewati. Kalau musim hujan warga yang mau menyeberang harus menggunakan perahu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suwarno menyampaikan tarif melewati jembatan tersebut tergolong standar karena hanya Rp 2 ribu. “Motor atau sepeda sama sebesar dua ribu sekali lewat. Kalau mobil tidak bisa lewat,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...