Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Jacksen F Tiago Sebut Persipura Sudah Biasa Bermain Tanpa Penonton

Pelatih Persipura Jayapura, Jacksen F Tiago.(facebook.com/persipura)

MURIANEWS, Jakarta- Digulirkannya Kompetisi Liga Indonesia dengan format terpusat di Jawa dan tanpa ada penonton, dinilai cukup menguntungkan Persipura. Penilaian ini disampaikan oleh pelatih mereka, Jacksen F Tiago, di sela persiapan mereka.

Kompetisi Liga 1 Indonesia, memang akan digelar dalam system gelembung karena kondisi pandemic covid-19 yang masih terjadi di Indonesia. Pertandingan ini akan digelar tersentral di salah satu kota, dan tidak akan disaksikan penonton.

Dengan system Buble dan tanpa penonton, Jacksen menganggap admosfernya memang akan menjadi berbeda. Namun dalam hal ini, timnya justru sudah terbiasa, karena situasi seperti ini sudah biasa dialami para pemainnya.

Dalam dua musim lalu, Persipura sudah menjalani pertandingan dengan admosfer seperti itu. Karena Persipura saat itu harus bertanding di tempat netral di luar Papua, karena Stadion Cendrawasih dilakukan renovasi.

“Memang situasinya akan beda. Tapi Persipura punya sebuah kelebihan, karena pada kompetisi 2019 maupun awal 2020, kami bermain tanpa penonton di tempat netral. Jadi apa yang terjadi saat ini bukan hal baru buat kami. Secara logika, mungkin adaptasi kami lebih mudah dibandingkan peserta lain,” kata Jacksen seperti dilansir dari Goal, Senin (23/8/2021)

Menghadapi musim 2021, Persipura saat ini bahkan sudah berada di Jawa. Mereka menggelar pemusatan latihan di Batu, Jawa Timur. Sambil menunggu kepastian jadwal kompetisi, mereka sudah berada dalam kondisi on fire.

“Kami belum dapat jadwal yang pasti. Seandainya tanggal 27 kami bertanding, H-3 kami akan menuju kota tempat pertandingan. Kami tetap di Batu menjalankan training camp sampai Selasa atau Rabu ini,” kata Jacksen menambahkan.

Disinggung mengenai tim pesaing Persipur, Jaksen menyatakan dirinya belum bisa memberikan gambaran. Apalagi, menurut perhitungannya, masalah wabah covid-19 masih tetap akan menjadi tantangan lain bagi semua klub yang akan ikut kompetisi.

Penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam pelaksanaan Liga 1, menurutnya tidak akan sepenuhnya bisa menjamin semua pemain bebas dari serangan Covid-19. Hal ini didasarkan pada pengalaman di kompetisi lain yang sudah ada di luar neger.

Sehingga soal ini tetap akan menjadi salah satu hal yang juga harus menjadi perhatian semua klub peserta. Saat ada salah satu pemain dinyatakan positif covid-19, maka dampaknya akan mempengaruhi tim secara keseluruhan.

“Saya belum bisa meraba mana tim yang akan menjadi pesaing kami. Kami tidak bisa memastikan, karena banyak yang belum uji coba. Banyak klub yang berubah dibandingkan di Piala Menpora, mereka melepas dan merekrut pemain baru,” tutur Jacksen.

“Dalam perjalanan kompetisi, pasti terjadi kasus. Kalau kita berkaca liga di luar negeri, di Brasil misalnya, ada klub yang kehilangan pemain karena terkontaminasi [COVID-19]. Begitu juga di Liga Champions, Prancis, dan Spanyol,” tambahnya.

“Kita mau seketat apapun pasti ada sewaktu-waktu hal seperti itu bisa terjadi, sehingga sangat sulit ditebak kekuatan masing-masing tim pada kompetisi di tahun ini, karena kita masih berhubungan dengan virus itu. Meski pemain itu tanpa cedera, dia bisa tidak tampil karena terkena virus itu,” imbuhnya.

“Kami cuma tahu [kekuatan lawan] dari atas kertas, jadwal akan padat, bermain di tempat netral, bermain tanpa penonton, semua itu akan berdampak kepada masing-masing peserta. Jadi sulit untuk menebak kekuatan,” pungkasnya.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: Goal

Comments
Loading...