Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Deddy Corbuzier Alami Badai Sitokin Covid-19, Seperti Apa Sih?

Pasien Covid-19 di RSUD RA Kartini Jepara dirawat dan diberi oksigen. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jakarta – Deddy Corbizier baru saja menceritakan dirinya mengalami fase badai sitokin Covid-19. Fase ini disebut dapat menyebabkan kematian pada pasien Covid-19. Lalu, apa sih yang disebut bada sitokin atau cytokine strom.

Dilansir dari situs Alodokter.com, badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami penderita Covid-19. Kondisi itu perlu segera ditangani secara intensif dan harus diwaspadai. Sebab, bila tanpa penanganan dokter, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga kematian.

Perlu diketahui, sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun, berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang kemudian disebut sebagai badai sitokin.

Badai sitokin terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga mengakibatkan peradangan.

Tak jarang peradangan itu membuat rusaknya organ-organ dalam tubuh, bahkan menyebabkan gagal berfungsi. Hal inilah yang membuat badai sitokin perlu diwaspadai, karena bisa sampai menyebabkan kematian.

Badai Sitokin dapat diketahui melalui pemeriksaan D-dimer dan C-Reactive Protein (CRP) pada penderita Covid-19. Pada penderita Covid-19, badai sitokin ini menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah.

Kantung udara kecil atau alveoli di paru-paru akan dipenuhi cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Itulah sebabnya mengapa penderita COVID-19 kerap mengalami sesak napas hingga membutuhkan alat bantu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar 6–7 hari setelah gejala Covid-19 muncul.

Selain sesak napas dan demam, badai sitokin juga menyebabkan berbagai gejala, seperti, kedinginan atau menggigil, kelelahan, pembengkakan di tungkai, mual dan muntah, nyeri otot dan persendian, sakit kepala, ruam kulit, batuk, napas cepat, kejang, sulit mengendalikan Gerakan, kebingungan dan halusinasi, tekanan darah sangat rendah, hingga penggumpalan darah.

Untuk menangani pasien Covid-19 yang mengalami badai sitokin diperlukan perawatan secara intensif di unit perawatan intensif (ICU). Dokter akan memantau tanda-tanda vital, memasang ventilator, pemberian cairan melalui infus, memantau kadar elektrolit, bahkan bisa jadi dilakukan cuci darah (hemodialisis), pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin.

Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penanganan yang tepat terhadap penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin.

“Pada penderita COVID-19, badai sitokin dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa. Agar terhindar dari kondisi serius ini, Anda disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja,” kata Alodokter.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...