Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Keindahan Karimunjawa dalam Bayang-Bayang Sampah

Keindahan Kepulauan Karimunjawa terbentang dari kejauhan. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Keindahan Kepulauan Karimunjawa terancam keberadaan sampah. Kondisi itu memaksa semua pihak turun tangan menyelamatkan pulau tercantik yang dimiliki Kabupaten Jepara tersebut.

MURIANEWS menelusuri sejumlah titik di Pulau Karimun Besar. Di alun-alun misalnya, beragam jenis sampah berserakan tak karuan. Angin mengakibatkan sampah berhamburan ke sana ke mari.

Kepala Puskesmas Karimun Jawa, Suhadi menyebut, belum ada komitmen antara pedagang di kawasan tersebut dan pembeli tentang etika menempatkan sampah. Alhasil, sampah bekas makanan hanya dibuang sembarangan.

“Saya sudah tanya, ada pembicaraan (antara pedagang dan pembeli, red) tentang buang sampah atau belum? Ternyata belum. Ini masalah utamanya sebenarnya,” kata Suhadi belum lama ini.

Suhadi menyatakan, bahwa komitmen pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Yakni sejak barang yang berpotensi sampah dipakai masyarakat.

Padahal, di Alun-Alun Karimunjawa itu sudah ada banyak tong sampah. Jarak antara tong sampah dan pedagang pun hanya beberapa meter saja.

“Kami akan segera komunikasi dengan para pedagang dan masyarakat, supaya tidak asal membuang sampah,” ucap Suhadi.

Aktivitas di PDU Sampah Karimunjawa. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS mendatangi Pusat Daur Ulang (PDU) sampah di Dukuh Alang-alang. Dengan luas 200 meter, lokasi ini dikatakan bisa menampung sampah sebanyak 10 ton dalam sehari.

PDU sampah itu berada di perbukitan. Saat ini, tengah ada proyek perluasan. Terpantau dua ekskavator sedang mengeruk bukit yang masih hijau itu.

Risko Herlambang, salah satu petugas PDU mengatakan, bahwa efektifitas PDU sampah itu masih sangat rendah. Buktinya, sejauh ini sampah yang masuk dari masyarakat hanya berkisar 500 kilogram sampai 1 kwintal dalam sehari.

“Kondisinya (sekarang, red) masih sepi. Masih apa adanya. Jadi tidak efektif,” kata Risko.

Dengan jumlah petugas yang hanya 13 orang, Risko mengaku belum maksimal dalam pengambilan sampah. Bahkan, tak jarang masyarakat menolak sampahnya dibawa. Lantaran mereka ingin menggunakannya untuk melakukan pengurukan.

Risko menyampaikan, sejauh ini petugas membeli sampah jenis botol plastik seharga Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kilogram. Kalau sudah dipress, harganya bisa sampai Rp 2.500.

“Selama ini kami masih memilah-milah sendiri sampahnya. Soalnya masyarakat enggak mau milah sendiri,” ujar dia.

Kendati belum demikian, Risko dan 12 temannya masih akan terus menjaga Karimunjawa dari bayang-bayang sampah. Petugas bahkan rela mengambil sampah dari pintu ke pintu.

“Saya berangan-angan kita punya kelompok masyarakat yang mau mengelola sampah secara mandiri. Supaya bisa menghasilkan ekonomi dari sampah-sampah. Juga supaya Karimunjawa tetap bersih dan indah,” harap pria asli Karimunjawa ini.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...