Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Benarkah KIPI Vaksin Moderna Lebih Nampol? Begini Jawaban Dokter

Tenaga kesehatan (nakes) menyuntikkan vaksin Covid-19. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai mendistribusikan vaksin Moderna kepada masyarakat, termasuk untuk nontenaga kesehatan (nonnakes). Belakangan ini muncul kabar jika efek samping atau kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) vaksin Moderna lebih tinggi.

Bahkan seorang nakes dalam twitnya di akun @cakasana menyebut jika dampak yang dirasakan begitu nampol. Ia mengistilahkannya ”seperti digebuki orang sekampung”.

Salah seorang dokter di Kudus yang juga sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kudus, dr Dony Wicaksana membenarkan hal itu. Menurutnya, KIPI dari vaksin Moderna lebih tinggi jika dibandingkan dengan vaksin Sinovac.

“Benar, KIPI Moderna lebih ada efeknya jika dibandingkan dengan Sinovac. Persentasenya lebih meningkat daripada Sinovac karena bahan dasar vaksin sudah beda,” katanya, Senin (16/8/2021).

Menurutnya, bahan dasar vaksin Sinovac terbuat dari sintetis. Sedangkan vaksin Moderna berbahan dasar dari virus yang dilemahkan. Selain dipengaruhi jenis vaksin, daya tahan seseorang juga ikut berperan terhadap gejala KIPI.

“Jadi tidak hanya soal jenis vaksinnya. Tetapi juga daya tahan tubuh pasien ketika divaksin. Oleh karena itu masyarakat harus memastikan dirinya sehat sebelum divaksin. Intinya harus jujur dulu,” sambungnya.

Dokter Dony Wicaksana melanjutkan, gejala yang ditimbulkan dari vaksin Moderna terdiri dari gejala ringan, sedang, hingga berat. Gejala ringan berbentuk pegal-pegal pada bagian bekas disuntik.

Sedangkan gejala berat yang ditimbulkan dari vaksin Moderna berupa badan yang lemas dan demam yang tinggi. Namun, dokter Dony mengimbau masyarakat agar tidak takut ketika divaksin jenis Moderna.

Menurutnya, IDI Kudus juga sudah memberikan sosialisasi jika masyarakat mengalami KIPI akibat dari vaksin Moderna. Dokter Dony tidak menampik jika KIPI ringan berupa pegal-pegal di area bekas disuntik dialami 10 hingga 14 persen masyarakat.

Namun, hal ini bisa diantisipasi dengan mengopres area yang pegal dengan air dingin.

Dia melanjutkan, jika nyeri yang dirasakan berupa demam, masyarakat dapat mengantisipasi dengan meminum obat Paracetamol. Hal ini untuk mengurangi demam yang diderita.

“Kalau KIPI nya berupa sakit kepala, demam, dan pegal-pegal, dan panas sampai 38 derajat sampai empat hari, itu bisa diantisipasi dengan minum air putih yang banyak dua sampai tiga liter sehari,” terangnya.

Jika timbul panas yang berkepanjangan, masyarakat bisa mencoba meminum obat penurun panas. Yakni diminum sehari tiga kali.

“Kalau mengalami KIPI berat seperti susah bernapas, wajah bengkak dari tangan hingga badan, bisa ke IGD di rumah sakit rujukan KIPI. Masyarakat di Kudus bisa ke RSUD, RSI, atau Mardirahayu,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...