Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Seniman di Kudus Gelar Aksi Treatikal, Ingin Gelaran Seni Dilonggarkan

Sejumlah pegiat seni menggelar aksi treatikal di Kudus (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Sejumlah pegiat seni Komunitas Sukarwaras melakukan aksi treatikal di Perempatan Karetan tepatnya di timur GOR Wergu Kudus, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus Minggu (8/8/2021) siang. Mereka berasal dari berbagai macam bidang seni mulai ketoprak, musik melayu, campur sari, dan band.

Dari pantauan di lapangan, ada empat orang yang berdandan layaknya tokoh perwayangan Buto Cakil, Semar, Gareng dan Bagong. Dalam aksi treatikalnya mereka juga menyanyikan berbagai lagu kebangsaan Indonesia, serta membawa atribut bendera merah putih dan bendera putih.

“Kami para seniman sudah hampir dua tahun tidak ada kejelasan dan tidak ada solusi. Kami sangat sadar sekali dengan keadaan seperti ini (pandemi), ” kata Aris salah seorang pegiat seni yang melakukan aksi saat ditemui seusai melakukan aksi treatikal.

Pria yang menyebut dirinya Masbro itu, sangat berharap kepada Bupati Kudus dan dinas terkait agar memberikan ruang kepada pegiat seni agar tetap bisa berkarya. Meski dengan konsekuensi yang ada dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Selama ini Seniman di Kudus kasihan sampai jual barang berharga di rumah. Beri kami ruang sedikit, agar kami masih bisa makan. Karena kami juga mencarikan nafkah untuk anak istri di rumah, kalau tidak diberikan ruang bekerja terus mau makan apa?” ucapnya.

Aksi treatikal yang dilakukan pegiat seni di Kudus (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Lebih lanjut ia menyebut, meski bendera putih sudah dikibarkan, bukan berarti tanda menyerah. Melainkan sebagai bentuk motivasi penyemangat untuk para pegiat seni di Kudus.

“Bendera putih, bukan untuk menyerah. Tapi harus tetap semangat dan tetap berusaha. Aksi ini kami tunjukkan untuk mengapresiasi dan menyemangati jangan sampai di Kudus ada yang seperti di daerah lain, ada yang membakar alat musik, sound sistem. Ayo tetap berkarya, yang terpenting diberikan ruang dan harus patuh dengan protokol kesehatan yang ada, ” terangnya.

Aksi tersebut, lanjut Masbro, bukan aksi protes, melainkan rasa syukur kepada Tuhan yang telah diberikan umur panjang. Serta, untuk menunjukkan kepada masyarakat masih adanya eksistensi seniman di Kota Kretek.

“Ini bukan protes, ini rasa syukur diberikan umur panjang. Dan ingin diperhatikan bahwa Kudus itu seni masih ada, bukan sudah mati,” pungkasnya.

Reporter : Yuda Auliya Rahman
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...