Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Proporsionalitas MUI dengan Agama Baha’i

Moh Rosyid *)

UCAPAN selamat Hari Raya Naurus, Tahun Baru Agama Baha’i, Jumat 26 Maret 2021 oleh Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), yang didokumenkan dalam kanal Youtube Baha’i dan dieksplore publik menuai polemik. Hal ini akibat pemahaman publik yang perlu diedukasi.

Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Utang Ranuwijaya, Kamis 5 Agustus 2021 menyatakan telah mengajukan pada pimpinan MUI agar memberi fatwa menyikapi ajaran agama Baha’i. Hanya saja MUI sedang mendalami sumber primer dalam Baha’i atas dorongan ormas Islam, meski bahasan tentang Baha’i oleh MUI sejak tahun 2014 namun berhenti.

Dalih pengkajian, mewaspadai bahwa agama Baha’i pecahan dari Syi’ah Itsna Asyariah, sekte dalam Islam.

Bahkan menurut Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan, merujuk Ensiklopedi Aliran dan Madzhab di Dunia Islam oleh Tim Riset Majelis Tinggi Urusan Islam Mesir, ada indikasi penyimpangan karena menafsiri pokok ajaran Islam yakni ketuhanan, kenabian, syariat yakni salat jemaah tidak wajib. Kecuali salat janazah, puasa hanya 19 hari, berziarah ke Tanah Suci di Kota Haifa Israel (pemakaman Bahaullah/deklarator agama Bahai), tafsir/takwil (yang esoteris ekstrim seperti Nabi Yusuf adalah Husain, Fatimah adalah matahari, sedang Muhammad adalah bulan) sehingga dianggap sinkretis karena berbeda dengan Islam (Republika.co.id, Selasa 3/5/21 dan Kamis 5/8/21).

 

Kinerja MUI

Sebagai representasi ormas Islam di Nusantara, kinerja MUI adalah) menasehati dan memberi fatwa keagamaan dan kemasyarakatan pada pemerintah dan masyarakat, meningkatkan ukhuwah islamiyah dan kerukunan antaragama demi persatuan nasional, serta mewakili muslim dalam hubungan antarumat beragama dan umat Islam dengan pemerintah RI.

Memahami kinerja tersebut, hal yang harus dipahami bahwa agama Baha’i sebagai agama mandiri, tidak terkait dengan agama lain maka bukan wilayah kinerja MUI. Merujuk kinerja MUI hanya fokus pada ajaran Islam dan umatnya, tidak perlu mengutak-atik ajaran intern agama Baha’i yang berbeda dengan Islam.

Hal yang diperankan MUI adalah membentengi muslim agar tidak silau dengan ragam ajaran agama-agama. Selamat berfatwa untuk kemaslahatan muslim, mewujudkan ukhuwah islamiyah, nasionalisme, dan toleran intern dan antarumat beragama. Nuwun. (*)

 

*) Dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...