Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Pakar ITB Sebut Kota Pekalongan, Semarang, dan Demak Akan Tenggelam, Begini Kata ESDM Jateng

Sejumlah kendaraan nekat menerjang genangan banjir di Jalan Kaligawe Semarang, 5 Februari 2018 lalu. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Prediksi tiga wilayah di Jawa tengah, yakni Kota Pekalongan, Semarang, dan Demak akan tenggelam akibat penurunan permukaan tanah oleh Pakar geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mendapat tanggapan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng.

Kepala Bidang (Kabid) Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jateng, Heru Sugiharto juga enggan menyanggah. Ia menilai pernyataan pakar geodesi ITB itu sebagai masukan atau bahan bagi pemerintah guna mengambil kebijakan untuk mengatasi persoalan land subsidence atau penurunan tanah.

“Pernyataan pakar ITB itu akan jadi masukan atau pertimbangan bagi pemerintah. Bagaimana kedepan membuat kebijakan yang bisa mengatasi persoalan land subsidence. Tidak kita abaikan,” ujar Heru seperti dikutip Semarangpos.com, Kamis (5/8/2021).

Meski demikian, Heru membenarkan pernyataan pakar ITB yang menyebut terjadi penurunan tanah di Pekalongan dan Semarang. Berdasarkan data yang diperolehnya dari berbagai lembaga riset, penurunan tanah di Semarang mencapai lebih dari 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya.

Baca: Ketimbang Jakarta, Penurunan Tanah di Pesisir Demak, Semarang dan Kota Pekalongan Lebih Mengkhawatirkan

Penurunan tanah itu terutama terjadi di wilayah pesisir Semarang bagian timur dan barat. Untuk wilayah pesisir Semarang bagian barat, penurunan tanah mencapai 2-5 cm per tahun. Sedangkan untuk wilayah pesisir Semarang bagian timur, penurunan tanah yang terjadi justru lebih parah, yakni lebih dari 10 cm.

Sementara untuk wilayah pesisir pantai utara Pekalongan, berdasarkan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak 2015-2020, terjadi penurunan tanah 0,07 meter – 0,11 meter setiap tahunnya.

Penurunan tanah, lanjut Heru disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah pengambilan air tanah secara masif.

Selain itu, penurunan tanah juga bisa disebabkan faktor alam seperti transgresi dan regresi yang membuat air laut semakin naik ke daratan, maupun sedimentasi endapan kuarter.

“Jadi ada banyak faktor, bukan hanya pengambilan air tanah. Tapi juga faktor alam. Selain itu juga aktivitas perekonomian seperti industri,” ujar Heru.

Namun, Heru tidak bisa menyalahkan aktivitas perekonomian atau industri yang terjadi di kawasan pesisir. Hal ini dikarenakan kawasan pesisir merupakan kawasan yang strategis bagi aktivitas perekonomian dan inddustri.

“Kawasan pesisir itu kan dekat dengan pelabuhan, sehingga menjadi pilihan industri,” jelasnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Semarangpos.com

Comments
Loading...