Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harga Cabai Merah di Pati Terjun Bebas, Petani Sampai Ogah Panen

Wario nampak mengecek tanaman cabai di lahannya. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Petani cabai merah di Kabupaten Pati, terpaksa harus gigit jari pada musim panen tahun ini. Pasalnya, harga cabai saat ini terjun bebas.

Bahkan para petani tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Malah, mereka harus merugi banyak.

Petani cabai di Desa Sidorejo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, Wario mengatakan, saat ini harga cabai hanya Rp 5.000 per kilogram. Padahal dua bulan lalu, harganya masih merajai di angka Rp 30.000 per kilogram.

Harga tersebut adalah dari petani, sementara harga di pasaran saat itu mencapai Rp 60.000 per kilogram.

Dengan kondisi itu, Wario mengaku rugi banyak. Bahkan dia terpaksa membiarkan saja cabai yang seharusnya siap dipanen tersebut.

Lantaran, apabila harus dipanen tentu akan mengeluarkan ongkos lagi, sehingga kalkulasi kerugian justru semakin banyak.

“Gimana lagi dijual kemana-mana pada enggak mau. Kita biarkan saja, sampai kering tidak disiram, kalau perlu kita buang saja,” ujar warga Desa Sidoarjo, Kecamatan Wedarijaksa itu, Selasa (3/8/2021).

Dirinya menyebut, petani bisa tersenyum sumringah pada Mei lalu. Mengingat saat itu, harga cabai merah mencapai rekor tertinggi di angka Rp 30.000 per kilogram.

Namun sekarang, Wario hanya bisa menghela napas karena harga cabai jatuh tak terkendali.

“Cabai merah anjlok habis-habisan ini, murah sekali Rp 5.000. Dulunya itu bisa sampai Rp 27.000-30.000, habis itu turun jadi Rp15.000 dan sekarang cuman Rp 5.000. Harga segitu petani enggak dapat apa-apa, malah rugi, modal enggak balik,” ungkapnya.

Idealnya, imbuh Waryo, harga cabai merah di atas Rp 10.000 per kilogram. Baru petani mendapatkan keuntungan dari kerja kerasnya.

Namun dengan diharga yang sekarang, petani hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah mengambil Langkah untuk menyetabilkan harga di pasaran.

“Minimal harga Rp10.000, meski keuntungannya tipis. Biaya operasional kayak pemupukan, penyemprotan, belum lagi tenaga kan biaya. Modal per hektare itu Rp 15 juta lebih. Petani enggak bisa apa-apa sekarang,” pungkasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...