Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Pasutri di Kudus Ini Sampai Tanya ke Habib Agar Nasi Kebuli Buatanya Sama seperti di Arab

Nasi kebuli buatan pasangan suami istri Mahfudz Hilman dan Nanik Budiarti. (MURIANEWS/ VegaMa’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Nasi kebuli ala Arab Saudi menjadi ciri khas yang ditawarkan oleh pasangan suami istri (pasutri) di Kudus ini. Pesanannya saat ini pun laris manis.

MURIANEWS berkesempatan melihat langsung proses pembuatan nasi kebuli yang dibuat oleh pasangan suami istri Mahfudz Hilman dan Nanik Budiarti. Keduanya membuat nasi kebuli di kediamannya, RT 10, RW 06, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Mahfudz Hilman menjelaskan nasi kebuli sedianya bukanlah bisnis kuliner pertama yang ditekuni bersama istrinya. Pada 2019 silam Mahfudz bersama istrinya membuka tiga cabang nasi rendang.

Namun, karena beberapa karyawannya yang kerap resign membuatnya kesulitan melayani pembeli.

“Akhirnya tiga cabang itu kami tutup dan sekarang beralih membuat nasi kebuli di rumah by order,” katanya, Sabtu (31/7/2021).

Nanik Budiarti menata nasi kebuli yang sudah diorder konsumen. (MURIANEWS/ VegaMa’arijil Ula)

Mahfudz melanjutkan, usaha nasi kebuli ditekuni sejak 2020 lalu. Istri Mahfudz, Nanik Budiarti awalnya hanya iseng-iseng membuat nasi kebuli untuk dikonsumsi keluarganya sendiri.

“Saat itu coba saya posting di status WhatsApp grup. Ternyata malah banyak yang order,” kata Nanik Budiarti.

Nasi Kebuli Al Farizi ditekuni keduanya hingga kini. Brand Al Farizi diambil dari putra keempat yang merupakan putra terakhirnya.

Soal keistimewaan nasi kebuli yang dibuat keduanya, ciri khas keaslian nasi kebuli terus dipertahankan keduanya. Bahkan mereka sampai bertanya ke rekannya yang merupakan seorang habib.

“Supaya nasi kebuli yang kami buat persis dengan yang ada di Arab Saudi, saya tanya ke teman saya yang habib. Katanya baik toping, acar, dan nasi kebuli nya memang seperti yang kami buat,” ungkapnya.

Berbicara soal toping, Mahfudz bersama istri tak mau ikut-ikutan dengan menyajikan toping sambal goreng tahu maupun sambal goreng ati seperti yang kebanyakan dibuat orang Kudus. Sebab, dia ingin mempertahankan keaslian nasi kebuli seperti yang ada di Arab Saudi.

“Kalau di Arab Saudi tidak ada nasi kebuli yang memakai toping sambal goreng. Mungkin penjual di sini menyesuaikan lidah orang sini. Tetapi kalau kami tetap mengacunya ke nasi kebuli seperti yang ada di Arab,” ujar Nanik Budiarti.

Namun, soal bumbu yang dipakai Nanik tetap menggunakan rempah pada umumnya. Meliputi bawang merah, bawang putih, cabai, ketumbar, merica, dan pala.

Lalu ada rempah-rempah lainnnya. Seperti jinten, cengkeh, kapulaga, katu manis, dan bunga lawang. Lalu, untuk berasnya, Nanik menggunakan beras jenis Basmati yang merupakan beras impor asal India.

“Rasa manis yang khas lidah orang Jawa tetap kami perhatikan agar konsumen suka,” ujar Nanik.

Harga nasi kebuli yang ditawarkan beragam. Nasi kebuli porsi nampan besar yang dapat dikonsumsi lima hingga enam orang, Nanik mematok harga Rp 270 ribu.

Sedangkan untuk porsi yang lebih kecil untuk dikonsumsi dua hingga tiga orang seharga Rp 145 ribu. Harga Rp 270 ribu maupun Rp 145 ribu bisa memilih lauk. Seperti ayam, kambing, sapi, atau kerbau.

Sejauh ini pembeli nasi kebuli buatan keduanya berasal dari beberapa daerah. Seperti Kudus, Demak, Pati, Semarang, dan Klaten.

“Selama masih ada orderan kami akan terus buat nasi kebuli. Harapannya semoga usaha kami bisa semakin berkembang dan semakin banyak orderannya,” harapnya.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...