Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ekspor Porang Diminta Tak Lagi Berbentuk Umbi

Petani Porang Koimin asal Madiun menunjukan hasil panen porang ladang miliknya.. (Sintesanews/Bambang cuk Winarno)

MURIANEWS, Madiun – Porang, saat ini, menjadi primadona komoditas ekspor dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan ekspor terbanyak dari tanaman bernama latin Amorphophallus muelleri itu adalah Jepang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, melihat potensi itu, Presiden Joko Widodo telah mengintruksikan agar porang dijadikan sebagai komoditas ekspor super prioritas. Sebab, porang memiliki potensi besar sebagai produk ekspor yang mendatangkan devisa besar bagi negara.

Syahrul menyebutkan, saat ini porang sudah menjadi komoditi pertanian unggulan ekspor baru selain beras. “Porang menjadi pilihan Bapak Presiden,” kata Syahrul, dikutip dari kompas.com, Sabtu (31/7/2021).

Hanya saja, porang yang diekspor bukan lagi dalam bentuk umbi. Porang itu harus diproses lebih dahulu.

“Bapak Presiden minta porang tidak lagi diekspor dalam bentuk umbi. Porang Madiun harus ada proses industrikan sebelum diekespor,” ujar Syahrul, saat berkunjung di salah satu pabrik porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Jumat (30/7/2021).

Salah satu sentra industri olahan porang yang diminati di luar negeri adalah beras shirataki yang bahannya terbuat dari porang. Apalagi, beras shirataki dikenal mahal karena cocok digunakan untuk diet.

Di negeri matahari terbit itu, porang dijadikan bahan baku beras shirataki yang sering digunakan sebagai beras diet.

“Kami tadi melihat ada proses industri sebelum porang diekspor. Salah satunya bagaimana porang menjadi beras (shirataki). Dengan demikian, masyarakat global tidak lagi hanya mengenal beras porang shirataki dari Jepang, tetapi juga ada beras porang dari Madiun,” katanya.

Untuk itu, Syahrul meminta Kabupaten Madiun tak hanya sekadar menjadi sentra budi daya porang saja. Namun, kabupaten yang dikenal sebagai kampung pesilat itu dapat menjadi sentra industri olahan porang di Indonesia.

Selain menjadi bahan baku beras shirataki, porang juga dapat diolah menjadi bahan campuran pada produk kue, roti, permen hingga bahan pengental pada produk sirup. Tak hanya itu, porang juga dapat diolah untuk bahan produk kosmetik.

Untuk itu, kata Syahrul, Kementan sementara mengembangkan industri porang dalam skala luas dan lengkap. Pengembangan industri porang juga akan dimulai dari hulu hingga ke hilir dengan kelembagaan petani yang kuat.

Menurut Syahrul, pengembangan industri porang dilakukan mengingat permintaan porang untuk ekspor dan pasar negeri baru terpenuhi sebanyak 10 persen.

Untuk diketahui, Kabupaten Madiun dikenali sebagai salah satu sentra pengembangan porang di Indonesia. Tahun lalu, luas lahan budidaya porang di Madiun mencapai 5.363 hektare.

Pengembangan budidaya porang di Kabupaten Madiun difokuskan di sepuluh kecamatan. Sepuluh kecamatan itu yakni Saradan, Kare, Dolopo, Dagangan, Mejayan, Gemarang, Wungu, Wonoasri, Pilangkenceng, dan Madiun.

Untuk mempercepat pengembangan porang di Kabupaten Madiun, Kementan menggelontorkan aneka program. Di antaranya, bantuan pupuk organik sebesar 22,8 ton, bantuan bulbil/katak Rp400 juta, serta pendampingan dalam bentuk bimbingan teknis dan kemitraan. Selain bantuan, Kementan memfasilitasi para petani porang mudah mengakses kredit usaha rakyat (KUR).

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: kompas.com

Comments
Loading...