Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Lava Pijar Gunung Ili Lewotolok di NTT Sebabkan Kebakaran Hutan

Lontaran lava pijar erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar lereng, Kamis (29/7). (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kupang – Gunung Ili Lewatolok, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengeluarkan lava pijar, Selasa (27/7/2021). Akibatnya kawasan hutan lindung di kaki gunung itu terbakar dan terus terjadi hingga Rabu (28/7/2021) malam.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu berlokasi di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebakaran itu dikhawatirkan mengancam permukiman warga di sana. Informasi tersebut disampaikan Pemerintah Kabupaten Lembata pada hari ini, Kamis (29/7).

Menghadapi api yang membakar kawasan hutan dan lahan di lereng gunung, pemerintah daerah telah melakukan upaya pemadaman api sejak dini. Namun demikian, kini api belum dapat dikendalikan sepenuhnya hingga saat ini. Api sulit dipadamkan karena petugas yang dibantu masyarakat setempat hanya menggunakan peralatan manual.

“Keterbatasan peralatan pendukung dan kendala fisik di lapangan, termasuk titik-titik api tersebut masih berada dalam kawasan rawan bencana, radius 3 km dari puncak gunung,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata Paskalis Ola Tapo Bali, dikutip dari situs resmi BNPB, Jumat (30/2021).

Pemerintah Kabupaten Lembata telah meminta dukungan dari BPBD Provinsi NTT untuk melakukan pemadaman udara dengan helikopter. Pemerintah kabupaten mengharapkan dengan pengeboman air atau water-bombing, pemadaman dapat dilakukan dengan efektif tanpa risiko korban jiwa mengingat lokasi berada pada radius berbahaya erupsi gunung api.

BNPB sendiri telah menggerakan helikopter water-bombing untuk membantu pemadaman dan mencegah potensi kejadian serupa, mengingat kondisi Gunung Ile Lewotolok masih aktif.

Dari pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Rabu (28/7/2021), sekitar pukul 00.00 – 06.00 WITA, Gunung Ile Lewotolok mengalami erupsi yang disertai dentuman kuat dan lontaran lava pijar.

Akibat dentuman itu, material vulkanik terlontar hingga 700 – 800 meter ke arah selatan-barat daya. Saat itu, asap kawah berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal serta tinggi sekitar 50 hingga 1.000 meter dari puncak gunung.

Sementara itu, kondisi aktivitas vulkanik pada tingkat III atau ‘Siaga’ perlu dicermati para petugas dan warga yang melakukan pemadaman api. Terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok, PVMBG merekomendasikan antara lain, masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak gunung.

Sementara itu, Kepala UPT Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kabupaten Lembata, Linus Lawe mengatakan belum mengetahui berapa luas kawasan hutan yang terbakar. Pasalnya, pihaknya belum bisa memasuki kawasan itu.

“Kami belum tahu berapa luas lahan itu yang sudah terbakar. Kami belum bisa mendekat karena kebakaran hutan lindung itu masih di dalam radius 3 kilometer dan masih ada larangan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ili Lewotolok untuk masuk ke radius itu,” katanya, dikutip dari indonesiainside.id, Jumat (30/7/2021).

Pihaknya sendiri masih berkoodinasi dengan Pemerintah Lembata dan pemerintah desa di bawah kaki Gunung Ili Lewotolok. Dia khawatir sebaran apinya akan terus meluas dan sampai ke desa-desa sekitar, apalagi dengan hembusan angin yang cukup kencang di daerah itu.

Saat ini tambah dia lagi, api yang membakar sekitaran puncak Gunung Ili Lewotolok itu mengarah ke Desa Kolontobo, Desa Murouna, Desa Riangbao dan Desa Petuntawa di Kecamatan Ile Ape.

“Kini kobaran api sudah mencapai kurang lebih 1,8 kilometer dari puncak gunung, sehingga kami sedang antispasi hal tersebut,” tambah dia.

Sementara Kepala PPGA Ili Lewotolok Stanis Ara Kian mengatakan bahwa perkembangan terkini bahaya lontaran dan menjaga kestabilan area lapuk terganggu, bisa saja terjadi longsoran khusus area Timur Tenggara.

“Untuk mengantisipasi ini agar radius 3 km tidak ada aktivitas manusia dulu dan tidak boleh melakukan pendakian untuk sementara waktu. Karena erupsi lewotolok masih saja terjadi,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa seismik sampai saat ini cenderung menurun tapi dengan catatan kegempaan sekarang cenderung memiliki frekuensi tinggi. Yang artinya bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dan potensi erupsi masih terjadi.

“Tindakan bisa dilakukan saat ini adalah masyarakat harus mengikuti rekomendasi PVMBG radius 3 km tidak ada aktivitas masyarakat. Dan terus waspadai juga dampak langsung lontaran lava pijar bisa saja terjadi ke segala arah. Seperti saat ini sebagian vegetasi terbakar,” ujar dia.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: BNPB, Indonesiainside.id

Comments
Loading...