Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kocak! BPBD Demak Parodikan Waktu Makan 20 Menit saat PPKM

Anggota BPBD Demak saat melakukan parodi PPKM Level 4 yang membatasi makan hanya 20 menit. (Tangkap Layar)

MURIANEWS, Demak – Pembatasan waktu makan di tempat yang diatur dalam penerapan PPKM level 4 dengan waktu 20 menit mendapatkan reaksi beragam dari masyarakat di Kabupaten Demak.

Tak terkecuali tim BPBD Kabupaten Demak. Mereka membuat video tentang penerapan PPKM Level 4 di area warung atau kantin instansi tersebut.

Video berdurasi satu menita tersebut bercerita tentang penjual warung yang sangat menepati waktu 20 menit. Sehingga baru saja pelanggannya makan tiga suapan sudah langsung diminta pergi karena waktu telah habis.

Staff BPBD, Santoso sekaligus tim kreatif dari video yang viral tersebut menjelaskan, video tersebut hanya untuk hiburan saja. Ia pun berharap masyarakat melihatnya dari segi komedi semata.

“Ini hanya untuk hiburan semata, Kami dari instansi BPBD tetap mendukung kebijakan pemerintah,” katanya seperti dikutip Suara.com.

Santoso menjelaskan, ide parodi tersebut muncul saat pihaknya bersama anggota lainnya melihat adanya foto editan di grup bertuliskan selesai tidak selesai kumpulkan.

“Kita hanya mencoba menikmati keadaan dengan ikut memparodikan hal-hal yang sedang menjadi perbincangan saja. Ide ini muncul saat di grub ada foto editan di sebuah rumah makan lamongan yang tertulis selesai tidak selesai kumpulkan,” ucap Staff BPBD, Santoso yang merupakan tim kreatif dari video yang viral tersebut.

Sementara itu Jumaidi, salah seorang pelanggan capjay di kawasan Domenggalan, Demak yang mencoba patuh dan menerapkan kebijakan pemerintah tersebut mengaku kewalahan dengan aturan yang ada.

“Saya sengaja mencoba menerapkannya, waktu 20 menit itu habis untuk mengantre. Sementara masak capjay untuk tiga orang saja sudah habis 10 menit lebih,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (28/7/2021).

“Lalu karena panas, saya harusnya menunggu sampai dingin. Namun karena diburu waktu saya pun sesegera mungkin menghabiskan makanan yang masih panas, hasilnya malah bibir saya kepanasan, bisa-bisa mlicet (terluka) ini,” imbuhnya.

Ia pun menyimpulkan, bahwasanya kebijakan penerapan waktu tersebut merupakan kebijakan yang menggelikan dan cenderung asal-asalan lantaran tidak mempertimbangkan realita di lapangan.

“Ini kebijakan gebyah uyah (dipaksa untuk sama rata). Kalau makan di restoran fast food ya bisa, tapi kan ga semua sajian kuliner ini fast-food,” ucapnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Suara.com

Comments
Loading...