Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ngatmin Perajin Biola di Kudus, Kisahnya Berubah Sepulang dari Bogor

Ngatmin menunjukan proses pembuatan biola dari bambu di rumahnya. MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Umumnya, alat musik biola dibuat menggunakan bahan dari kayu. Namun Ngatmin, perajin biola asal Kudus memilih membuat alat musik gesek itu dengan bahan bambu. Seperti apa kisahnya?

Saat ditemui MURIANEWS di kediamannya, Ngatmin menceritakan perjalannya menjadi seorang perajin biola dari bambu. Rumahnya di Dusun Japan Wetan, Desa Japan, Kecamatan Dawe itu juga menjadi tempatnya mengolah bambu menjadi sebuah biola.

Perjalannya dimulai pada 1999, saat itu Ngatmin merupakan seorang tukang kayu. Dia kemudian sempat merantau di Kota Bogor, Jawa Barat pada 2009. Momen ini lah dia kemudian menjadi seorang perajin biola.

Saat itu, dia bertemu dengan Muhammad Nur Amin, seorang seniman yang juga mengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB). Temannya itu juga mengajar kursus musik, khusus biola dan sedang mencari seseorang yang bisa membuat biola.

“Saya yang basiknya tukang kayu, diminta untuk membuat biola. Saat itu masih dari kayu. Akhirnya saya bantu buat biola. Supaya nanti bisa ditawarkan ke murid-murid teman saya itu,” katanya, Sabtu (24/7/2021).

Membuat biola untuk IPB itu dilakukannya hingga 2012. Kemudian, Ngatmin memilih pulang ke Kudus agar lebih dekat dengan keluarganya.

“Semenjak pindah ke Kudus, saat masih membuat biola tapi masih pakai bahan kayu. Tak lama, setelah itu saya diajak Bupati Kudus saat itu, pak Mustofa, untuk mengikuti pameran,” jelasnya.

Setahun setelah kepulangannya itu, Ngatmin kemudian berinovasi dengan membuat biola dari bambu. Menurutnya, biola dari bambu memiliki keunikan tersendiri. Apalagi, saat ini sudah banyak yang membuat biola dari kayu.

“Saya terinspirasi dari seruling dan angklung. Menurut saya, bambu itu bagus untuk resonansi,” jelasnya.

Dalam pembuatan biola dari bambu itu, dia memilih menggunakan jenis bambu petung atau Dendrocalamus asper. Sebab, bambu tersebut dipercayanya dapat menghasilkan resonansi suara yang bagus.

Menurutnya proses membuat biola dengan bahan bambo lebih rumit. Di mulai dari menumpuk bambu sepanjang 17 sentimeter hingga enam lapis. Baru, bambu bisa dibentuk.

Tak hanya itu, sebelum digunakan, harus dikeringkan lebih dulu. Proses pengeringan ini yang memakan waktu lama, hingga lima bulan. Sebab, jika bambu masih basah, kualitas suara yang dihasilkan tidak bisa maksimal.

Saat ini kediaman Ngatmin masih sering digunakan untuk kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) bagi mahasiswa yang hendak belajar dan melihat proses pembuatan biola bambu.

“Mereka biasa menganalisa bahan bambu yang saya gunakan untuk membuat biola,” ujar Ngatmin.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...