Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jemaah Tarekat Syattariyah di Sumbar Baru Rayakan Iduladha Hari Ini

Ilustrasi. (Dok/MURIANEWS)

MURIANEWS, Padang Pariaman – Beberapa besar umat Islam di Indonesia telah merayakan Hari Raya Iduladha pada Selasa (20/7/2021). Sebelumnya, dua jemaah asal Medan dan Kabupaten Gowa yang merayakan Iduladha lebih awal, yakni Senin (19/7/2021).

Baca Juga: Jemaah Tarekat Naqsabandiyah, Medan dan An Nadzir, Gowa Rayakan Iduladha Hari Ini

Ternyata, ada yang baru merayakan Iduladha hari ini, Kamis (22/7/2021). Jemaah itu bernama Tarekat Syattariyah di Kabupaten Padang Pariyaman dan beberapa daerah di Sumatera Barat (Sumbar).

Salah satu ulama Syattariyah, Tuanku Ahmad Yusuf mengatakan sejak dulu, Tarekat Syattariyah menggunakan bilangan taqwim khamsiah atau menghitung dari awal bulan Muharram untuk menentukan jatuhnya 10 Zulhijah atau Iduladha.

“Memang ada perbedaan cara hitung jatuhnya 10 Zulhijah dengan ketetapan dari pusat. Kami menghitungnya dari awal bulan Muharram tahun ini,” kata Tuanku Ahmad Yusuf kepada CNNIndonesia.com, di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (22/7).

Dijelaskan, taqwim didapatkan berdasarkan huruf masing-masing bulan dan tahun. Jumlah dari kedua huruf itu menjadi penentu awalnya seperti, Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

“Perbedaan ini, tidak hanya kerap terjadi pada perayaan Idul Adha saja, namun juga saat penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” jelasnya.

Menurutnya, Hari Raya Iduladha di 2021 cukup unik, karena jaraknya dua hari lebih lama. “Memang ada perbedaan dengan pemerintah dan Muhammadiyah, namun setahu saya biasanya jaraknya hanya satu hari saja, tapi tentu ini tak jadi soal,” ungkapnya.

Menanggapi perbedaan itu, dia mengatakan agama Islam tidak memiliki peraturan yang baku dan terikat dalam penentuan hari raya. Sebab itulah, Jemaah Sattariyah memiliki pedomannya sendiri.

“Sebaiknya perbedaan ini jangan menjadi celah untuk saling menghina, terutama antarsesama umat Islam,” pesannya.

Dalam perayaan Idul Adha ini, jemaah menggelar salat Idul Adha secara berjamaah, yang kemudian berlanjut dengan pemotongan hewan kurban di masjid atau musala masing-masing. Ada lima ekor sapi dan satu ekor kambing dari Ikatan Perantau Kampung Koto Jakarta.

Salah seorang jemaah Syattariyah di Ulakan Tapakis, Nasrul, mengatakan ia dan keluarganya mengikuti ajaran itu secara turun-temurun. Hingga saat ini, ia masih meyakini ajaran tersebut karena tidak ada perbedaan dengan ajaran Islam secara umum.

“Kami sekeluarga mengikuti ajaran Tarekat Syattariyah, walau memulai puasa Ramadan dan Idul Adha berbeda dengan masyarakat pada umumnya, namun tujuannya tetaplah sama,” katanya.

Selain di Agam dan Padang Pariaman, jemaah Syattariyah juga tersebar di sejumlah daerah di Sumbar, seperti di Kabupaten Pesisir Selatan, Sijunjung, Batusangkar, Solok dan kota Padang.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar dan pemerintah setempat mengizinkan masyarakat melaksanakan salat Idul Adha di masjid dan musala dengan catatan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Kegiatan agama merupakan salah satu ikhtiar umat Muslim dalam menghadapi pandemi,” kata Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNNIndonesia.com

Comments
Loading...