Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Belum Selesai Pandemi Covid-19, di China Ditemukan Virus Monkey B

Ilustrasi monyet.
(nhm.ac.uk)

MURIANEWS, Jakarta – Pandemi Covid-19 belum juga selesai dan masih mewabah di berbagai negara, di China salah satunya. Namun, di China yang merupakan tempat pertama ditemukan virus Corona, ditemukan virus baru, yakni virus monkey B.

Bahkan, dilaporkan seorang dokter hewan di China meninggal dunia usai terinifeksi virus monkey B. Informasi ini diungkapkan otoritas kesehatan China, Sabtu (17/7/2021). Dikutip dari CNNIndonesia.com, kasus ini merupakan kasus virus monkey B di China pada manusia pertama yang terdokumentasikan.

Diketahui, virus monkey B juga dikenal sebagai virus herpes B. Virus ini menyerang monyet macaca. Sebenarnya, kasus ini tergolong sangat langka. Hanya saja, seringkali mematikan Ketika menyerang manusia.

Saat menyerang manusia, virus ini cenderung menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan pembengkakan otak. Seorang ahli penyakit menular asal Kobe University, Jepang mengatakan akibat serangan itu dapat menyebabkan seseorang akan kehilangan kesadaran, dan jika tidak segera ditangani dengan benar, maka dapat menyebabkan risiko kematian hingga 80 persen.

Virus monkey B atau virus B disebabkan Cercopithecine herpesvirus 1 dan endemik pada alphaherpesvirus pada kera. Virus B telah dikaitkan secara positif dengan lebih dari dua lusin kematian manusia sejak laporan pertama yang menggambarkannya pada tahun 1933 lalu.

Virus B adalah jenis yang unik di antara virus herpes non-manusia. Virus ini termasuk jenis virus paling tua yang bisa patogen terhadap manusia. Secara khas, virus ini bersifat neurotropik dan neurovirulen pada inang manusia yang secara tidak sengaja terpapar saat menangani kera-kera yang umumnya digunakan dalam penelitian biomedis.

Gejala infeksi virus ini juga ditandai dengan invasi virus ke otak (Encephalitis) dan selaput (meninges) yang mengelilingi otak. Kadang-kadang, infeksi juga mempengaruhi struktur sumsum tulang belakang (Encephalomyelitis). Kerusakan saraf dapat terjadi akibat infeksi virus yang bersifar zoonotik (menular dari hewan ke manusia) ini.

Penularan virus ini bermula dari kontak langsung antara monyet dan manusia. Saat kontak, kemungkinan akan mengalami melepuh di luka atau area tubuh tempat kontak dengan monyet.

Gejala muncul sekitar satu bulan atau lebih singkat sekitar tiga sampai tujuh hari usai kontak dengan monyet yang terinfeksi virus B. Virus ini umumnya ditemukan pada air liur monyet, kotoran, kencing, otan atau jaringan sumsum tulang belakang.

Virus juga dapat ditemukan dalam sel yang berasal dari monyet yang terinfeksi di laboratorium. Virus B dapat bertahan selama berjam-jam di permukaan, terutama saat lembap.

Inveksi akibat virus ini ditandai dengan demam, sakit kepala, muntah, rasa tidak nyaman (malaise), serta leher dan punggung kaku. Gejala-gejala ini mungkin terkait dengan disfungsi neuromuskular, kesulitan pernapasan, masalah penglihatan, kelainan saraf kranial, perubahan kesadaran, perubahan kepribadian, kejang dan atau kelumpuhan parsial (paresis). Beberapa pasien mungkin mengalami koma.

Pada manusia, infeksi ini dapat terjadi akibat paparan air liur yang terkontaminasi dari monyet, bisa dari gigitan dan cakaran atau kultur jaringan virus simian, biasanya terjadi di laboratorium. Selain itu, setidaknya ada satu kejadian di mana penularan dari orang ke orang terjadi.

Sebagai pertolongan pertama, cuci bersih dan gosok perlahan luka atau bagian tubuh yang terkena kontak dengan monyet. Bersihkan dengan sabun, deterjen, atau yodium selama 15 menit. Kemudian, siram luka atau area tersebut dengan air mengalir selama 15-20 menit. Selanjutnya, temui dokter untuk mendapat pertolongan pertama dari infeksi virus monkey b.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNNIndonesia.com

Comments
Loading...