Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ternyata, Ada Mahasiswa Indonesia Ikut Ciptakan Vaksin AstraZeneca

Indra Rudiansyah. (Dok. YouTube Deutsche Bank)

MURIANEWS, Jakarta – Ternyata, ada mahasiswa asal Indonesia yang terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Mahasiswa asal Indonesia itu, saat ini menempuh studi S3 Clinival Medicine, Jenner Institute, University of Oxford.

Dilansir Detik.com, mahasiswa tersebut adalah Indra Rudiansyah. Dia masuk menjadi salah satu anggota kelompok peneliti pimpinan Professor Sarah Gilbert dari Jenner Institute dalam pengembangan vaksin Covid-19 sejak 2020.

Profesor Vaksinologi University of Oxford tersebut mempercepat terciptanya vaksin dengan merekrut sejumlah mahasiswa pascasarjana lintas disiplin ilmu di universitasnya.

Semula, Sarah sedang menangani pembuatan vaksin untuk virus-virus yang belum diketahui. Dia juga sempat bekerja untuk meneliti jenis virus corona yang sebelumnya ada.

Saat ahli vaksin Inggris mengetahui info kasis SARS dengan gejala mirip pneumonia merebak di Wuhan, China, Sarah meyakini, dia bisa mengerjakan vaksinnya. Namun, dia perlu mempersingkat waktu pembuatan vaksin yang rata-rata membutuhkan waktu lima tahun menjadi sesegera munugkin dengan bantuan ratusan orang.

“Untuk membuat vaksin dengan cepat, kita butuh banyak orang dengan berbagai skill berbeda. Kita butuh immunologist (ahli imunologi), yang medically qualified, perawat, statistisi, dan juga engineer, yang akan bekerja memproduksi vaksin dan memastikan quality control-nya,” kata Sarah dalam video ‘The Oxford Vaccine: Meet The Team Behind The Breakthrough’ di kanal YouTube Deutsche Bank, diunggah Februari 2021.

Karena proses pembuatan vaksin dipersingkat, Sarah memerlukan mahasiswa yang sudah terlatih. Kebanyakan mahasiswa itu dari program pascasarjana. Mulanya, dia cukup sulit mendapat pendanaan untuk keterlibatan mahasiswa dalam penelitian, karena mahal.

Selain itu, mahasiswa perlu dilatih dalam semua aspek sains dan bekerja dengan teknologi dengan berbagai disiplin. “Dengan funding, kita bisa ajak mahasiswa bekerja sesuai bidangnya, dan melatihnya jadi ilmuwan generasi selanjutnya,” jelas Sarah.

Timnya sendiri, menggunakan teknologi yang digunakan Oxford beberapa tahun ini. Teknologi itu mencakup cara produksi dan distribusi ke masyarakat dengan baik.

“Karena percuma jika bisa membuat vaksin yang terbaik tetapi hanya bisa diproduksi dalam jumlah sedikit, sangat mahal atau sangat sulit dalam aspek transportasinya,” kata Sarah.

Sarah kemudian membuat sebaran informasi untuk terlibat dalam proyek penelitian vaksin itu. Salah yang terpilih dalam penelitian vaksin AstraZeneca adalah Indra Rudiansyah, mahasiswa asal Indonesia. Dia sedang menempuh pendidikan S3 Program Clinical Medicine, Jenner Institute, Universitas Oxford.

Indra Rudiansyah. (Dok. YouTube Deutsche Bank)

Indra menjelaskan, dirinya berfokus pada pengembangkan vaksin untuk penyakit menular seperti HIV, ebola, dan penyakit-penyakit lainnya yang berpotensi menimbulkan pandemi seperti SARS, MERS. “Dan sekarang COVID-19,” katanya dalam video yang sama.

Indra menuturkan, pada penelitian ini, ia bekerja mengamati respons antibodi sukarelawan. “Metode ini juga berlaku saat saya mengerjakan vaksin malaria,” jelasnya.

Ia mengatakan, pekerjaannya di proyek vaksin tersebut menantang karena berhadapan dengan waktu dan virus. “Banyak orang meninggal karena COVID-19. Tantangan lainnya karena situasi kerja berbeda, harus jaga jarak, lebih sedikit keleluasaan di dalam laboratorium,” cerita Indra.

Indra menyebut, timnya mendapat banyak dukungan dari pemerintah, pemberi dana, filantropi, dan sukarelawan yang berkenan memberikan waktunya untuk uji coba. Di sisi lain, timnya memastikan bekerja independen berbasis data di lapangan.

“Ini sangat penting karena kita ingin membangun kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Kita tidak ingin orang ragu karena kami tahu vaksin bisa menyelamatkan banyak orang. Kami mau menjadi bukti untuk masyarakat bahwa vaksin ini aman dan efektif,” kata Indra.

Regius Profession of Medicine Oxford University Sir John Bell menuturkan, pihak kampus sempat terkendala biaya untuk merekrut para mahasiswa untuk terlibat dalam pembuatan vaksin COVID-19 ini. Kendati demikian, penelitian tersebut tetap berjalan sesuai rencana hingga diproduksi dan didistribusikan seperti hari ini.

“Kami punya mahasiswa dari berbagai negara di dunia untuk mengikuti training dan berkontribusi untuk dunia. Memang ada kendala di biaya sebelumnya, tetapi mahasiswa merupakan salah satu yang terpenting di penelitian vaksin ini untuk dapat direkrut dan mengubah dunia,” kata John.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Detik.com

Comments
Loading...