Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bubaran Karyawan Pabrik di Jepara Timbulkan Kemacetan dan Kerumunan saat PPKM Darurat

Tangkapan layar kemacetan mengular di PT PWI Jepara saat bubaran karyawan, Rabu (15/7/202). (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Penyekatan jalan di Kabupaten Jepara sebagai bagian kebijakan PPKM Darurat masih menimbulkan sejumlah persoalan. Terutama ketika bubarnya karyawan pabrik-pabrik yang menimbulkan kerumunan dan kemacetan.

Kamis (15/7/2021) hari ini beredar video amatir yang merekam kemacetan luar biasa di sekitar PT Parkland Word Indonesia (PWI) di Kecamatan Mayong, Jepara. Video itu diambil saat bubarnya ribuan karyawan pabrik.

Kemacetan itu terjadi ditengarai adanya penyekatan di jalan utama. Sehingga, ribuan karyawan yang akan pulang terpaksa melewati jalur alternatif.

Sogon Ardian, salah satu karyawan di PT PWI Jepara, mengaku keberatan jika dilakukan penyekatan. Pasalnya, sebagai orang Kudus, waktu perjalanan yang biasanya ditempuh hanya 25 menit, kini bisa dua kali lipat dari itu.

Selain jarak tempuh yang lebih jauh, Sogon juga mengeluhkan jalan alternatif daerah Mayong-Nalumsari yang rusak parah. Juga lampu penerangan jalan yang minim, cukup berbahaya ketika dilewati malam hari saat sif malam.

“Masak ke Kudus saja, pulang muter-muter dulu. Jalannya saja jelek. Gak ada lampu. Penerangan kurang. Kasihan kalau yang sif kerja malam. Bahaya. Apalagi buat cewek-cewek,” ujar Sogon.

Menanggapi hal ini, Kapolres Jepara AKBP Warsono, mengatakan pihaknya sudah menyampaikan ke pihak perusahaan agar mengatur bubarnya karyawan saat pulang atau pergi bekerja. Tetapi, nyatanya kerumunan masih terjadi.

“Kami kemarin sudah ngecek pabrik. Sudah kita sampaikan ke HRD (Human Resource Department, red) untuk memecah. Supaya tidak berkerumun,” terang Warsono saat dihubungi MURIANEWS, Kamis (15/7/2021).

Warsono juga menyampaikan, para HRD harus mengatur karyawan ketika menuju jalur alternatif. Jadi, ribuan karyawan itu harus dipecah untuk diarahkan ke jalur utama dan jalur alternatif.

“Kita sudah sampaikan, mereka (HRD, red) menyampaikannya kepada karyawan mereka. Supaya tidak semua ke jalur utama. Ada yang ke jalur alternatif,” imbuh Warsono.

Tidak hanya ketika pulang atau pergi bekerja, Warsono juga telah meminta kepada perusahaan agar mengatur karyawan ketika jam-jam istirahat.

Warsono menuturkan, sektor essensial memang tidak bisa 100 persen ditutup. Melainkan tetap berjalan 50 persen. Tetapi, karena jumlah perusahaan essensial di Jepara banyak, jumlah karywan yang tumpah ke jalan tetap banyak.

Ke depan, lanjut Warsono, pihaknya tetap akan melakukan penyekatan pada titik-titik tertentu. Warsono juga akan menurunkan anggotanya untuk berjaga dan memberikan arahan ketika ada bubaran karyawan pabrik.

“Nanti tetap kita evaluasi. Supaya pengaturannya lebih bagus. Penyekatan bukan berarti dihalang-halangi. Sudah kita plotingkan (petugas kepolisian, red), supaya saat bubaran (karyawan pabrik, red) itu petugas juga mengarahkan,” pungkas Warsono.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...