Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Keluhan Tukang Parkir di Kudus saat PPKM Darurat: Sehari Paling Bawa Rp 35 Ribu

Petugas parkir di Perempatan Kojan, Kudus memarkirkan kendaraan pengunjung, Jumat (9/7/2021). (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Penyekatan yang dilakukan di Kudus sebagai bagian penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berdampak bagi pendapatan tukang parkir. Penghasilan tukang parkir harus  dibagi rata sehingga jumlah pendapatan merosot.

Pengamatan MURIANEWS, di Perempatan Kojan Kudus, pengguna kendaraan roda dua yang hendak mengarah ke timur menuju Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus harus parkir di area diler Wahid 1 Motor.

Tampak beberapa pengguna roda dua enggan parkir dan memilih memutar balik kendaraan. Kebanyakan mereka malas untuk berjalan kaki menuju ke salah satu pertokoan.

Salah seorang petugas parkir sepeda motor, Siswo mengatakan kendaraan roda dua yang hendak menuju pertokoan harus parkir di Perempatan Kojan itu. Hal itu sudah berjalan sejak beberapa hari lalu mengingat adanya PPKM Darurat.

“Parkirnya di sini semua. Tapi hasil parkir di sini ya dibagi tujuh orang. Karena di area ini ada tujuh orang petugas parkir,” katanya saat ditemui di lokasi, Jumat (9/7/2021).

Menurutnya dengan dibagi hasil tujuh orang, penghasilannya justru merosot. Dia lebih senang dengan kondisi parkir sebelum adanya PPKM Darurat. Sebelumnya dia bertugas sebagai tukang parkir di pertokoan Larees.

“Lebih enak sebelum ada PPKM Darurat. Karena penghasilannya untuk sendiri. Kalau seperti ini harus dibagi tujuh orang,” sambungnya.

Sebelum adanya penyekatan di area tersebut, warga Desa Demaan itu mampu mengantongi Rp 70 ribu dalam sehari. Namun, semenjak adanya penyekatan dan harus bagi hasil, dalam sehari dia hanya membawa pulang Rp 35 ribu sehari.

“Sehari paling bawa Rp 35 ribu. Mentok paling banyak Rp 50 ribu. Kalau sebelum ada penyekatan bisa sampai Rp 70 ribu,” ungkap pria dua anak itu.

Merosotnya pendapatan dari parkir sepeda motor juga dirasakan oleh Adi. Sebelum ada penyekatan, Adi merupakan tukang parkir di Apotek 39. Saat itu dia mampu membawa pulang uang Rp 70 ribu. Namun, semenjak ada penyekatan, pendapatannya dalam sehari hanya Rp 50 ribu.

“Lebih enak sendiri-sendiri seperti dulu. Kalau digabung seperti ini pendapatan saya turun. Paling bawa pulang Rp 50 ribu,” ujarnya.

Soal ongkos parkir, dia tidak mematok pengguna roda dua. Dia menerima pemberian seikhlasnya. Biasanya Rp 500 hingga Rp 2 ribu.

“Seikhlasnya saja. Yang penting bisa bawa pulang uang untuk orang di rumah dan bisa bayar sekolah ketiga anak saya,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...