Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penyekatan PPKM Darurat Bikin Pedagang Taman Bojana Kudus Tutup Warung Berjemaah

Warung kuliner Taman Bojana Kudus tutup berjemaah mulai Kamis (8/7/2021) hari ini. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Penutupan akses jalan menju area Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus sebagai bagian Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berdampak pada pedagang Taman Bojana. Seluruh warung kuliner di tempat itu tutup berjemaah mulai, Kamis (8/7/2021) hari ini.

Diketahui, area Taman Bojana Kudus memang dekat dengan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus. Saat ini beberapa titik menuju alun-alun telah disekat, sehingga memengaruhi jumlah pengunjung yang datang.

Bambang Noor’ In, salah satu pedagang di Taman Bojana bahkan sudah menutup warung sotonya sejak Rabu (7/7/2021) kemarin. Penutupan itu dilakukannya karena pengunjung sepi akibat penyekatan jalan.

“Benar kami tutup berjemaah. Kalau saya sudah sejak Rabu kemarin. Kalau teman-teman mulai hari ini,” katanya.

Dia memilih tutup pada Rabu kemarin karena sejak Senin (5/7/2021) dan Selasa (6/7/2021) dia tidak mendapatkan pelanggan. Menurutnya kondisi yang sama juga dirasakan oleh rekan-rekannya.

“Rabu kemarin itu masih ada empat warung yang jualan. Satu warung ada satu pembeli. Tiga warung lainnya tidak ada pembeli sama sekali,” sambungnya.

Bambang tidak menampik kondisi saat ini terasa berat. Sebab, tarikan retribusi sewa sebesar Rp 20 ribu sehari tetap berlanjut kendati warungnya tutup.

Ditanya sampai kapan menggelar libur berjemaah, Bambang belum dapat menentukan waktunya. Namun menurutnya, jika ia nekat beroperasi selama masih ada penutupan jalan, maka hanya akan  mendapatkan kerugian.

“Sebelum ada penyekatan itu biasanya masih ada yang bungkus sepuluh. Lumayan sebenernya masih bisa bawa uang Rp 200 ribu sehari. Setidaknya bisa untuk kulakan,” jelasnya.

Baca: Pedagang Taman Bojana Ogah Direlokasi ke Pasar Kliwon Kudus, Ini Alasannya

Keluh kesah juga datang dari pedagang lain, Rudi Handoko. Dia menutup warung sotonya mulai hari ini.

“Rabu kemarin itu di warung saya dari pagi sampai siang hanya dua pembeli. Warung bude saya hanya tiga orang yang beli. Warung lainnya malah sama sekali tidak ada pembeli,” ujarnya.

Dia juga mengeluhkan terkait beban retribusi yang harus dibayar tiap hari. Apalagi ia mempunyai dua karyawan.

“Sehari masing-masing harus membayar karyawan Rp 50 ribu. Kemudian untuk retribusi kiosnya saya bayar Rp 13 ribu sehari,” sambungnya.

Rudi menjelaskan, sebelum ada penyekatan, dalam sehari dia mampu mengantongi Rp 1 juta. Namun, semenjak ada penyekatan di area Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dia justru merugi.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...