Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Rachmat Harsono Tepis Kelangkaan Oksigen Tabung Karena Penimbunan

ILUSTRASI. Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Rachmat Harsono. (KONTAN/Fransiskus Simbolon)

MURIANEWS, Jakarta – Isu adanya penimbunan oksigen di masa pandemi ini ditepis produsen oksigen. Suara itu keluar dari Presiden Direktur PT Aneka Gas Industri Rachmat Harsono.

Rachmat yang juga Ketua Komite Pengarah Asossiasi Gas Industri Indonesia (AGII) blak-blakan pada terkait kondisi di lapangan. Menurutnya, kelangkaan oksigen tabung diakibatkan lonjakan orang yang terpapar Covid-19 dalam dua pekan terakhir.

Oksigen untuk kepentingan medis yang sulit di lapangan, lebih karena permintaan di rumah sakit dan masyarakat. Dia menepis anggapan adanya penimbunan oksigen tabung.

“Kalau penimbunan, saya rasa tidak. Mau nimbun berapa banyak, menyimpannya di mana? In ikan butuh tangka khusus dan harus terisolasi dengan baik,” kata Rachmat seperti dikutip di detik.com, Selasa (6/7/2021).

Menurutnya, sulit unutk bisa menimbun oksigen. Sebab, peroperasiannya perlu memerhatikan aspek keselamatan yang ketat. Di samping itu, tabung oksigen juga sudah teregister di Kementrian Perindustrian.

“Berbeda dengan penimbunan masker atau barang lain yang tidak ada registrasinya lebih mudah. Ini berbeda. Kementrian tahu pasti berapa tabung oksigen yang beredar. Apalagi oksigen biasanya disimpan dalam tanki besar dan sulit dipindah apalagi disembunyikan. Kalau tiba-tiba tidak bergerak sangat tidak mungkin,” jelasnya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) itu mengungkapkan, lonjakan permintaan oksigen tidak Cuma dilakukan rumah sakit akibat membludaknya pasien Covid-19. Sebagian masyarakat juga melakukan panic buying.

“Ada masyarakat yang latah ikut membeli oksigen hanya untuk persediaan pribadi dan keluarganya. Jadi, bukan karena memang akan digunakan mendesak. Kepanikan ini dipicu banyak warga yang mencari dan membeli di Pasar Pramuka, padahal di Jabodetabek ada 60 distributor besar. Pasar Pramuka jangan dijadikan barometer nasional, itukan kelas kecil,” katanya.

Rachmat Harsono memastikan kapasitas produksi oksigen yang mencapai 1.700 ton perhari sebetulnya akan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Apalagi pemerintah telah meminta agar 70% oksigen yang selama ini biasa digunakan kalangan industri akan sepenuhnya untuk kepentingan medis. Sebab biasanya kebutuhan gas untuk medis setiap hari sekitar 400 ton, tiba-tiba melonjak menjadi seribuan ton.

Dengan kapasitas produksi sebesar itu, dia pribadi menilai impor oksigen belum diperlukan. Sampai Selasa kemarin pun impor belum dilakukan. Dia memperkirakan impor akan benar-benar dilakukan bila lonjakan pasien covid semakin tinggi.

“Kalau misalnya ada rencana impor dari Taiwan dan segala macam yang siap impor ya siap-siap saja. Tapi kalau memang nggak butuh buat apa sih kita impor,” kata Rachmat. Apalagi ada risiko potensi jumlah yang dibeli kemudian setiba di tanah air otomatis akan berkurang selama dalam perjalanan.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor Zulkifli Fahmi
Sumber: detik.com

Comments
Loading...