Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dana Klaim Penanganan Pasien Covid-19 Sejumlah RS di Kudus Belum Cair

Dua orang nakes tengah beristirahat di selasar IGD RSUD Loekmono Hadi Kudus. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Sejumlah rumah sakit penanganan Covid-19 di Kabupaten Kudus hingga kini belum menerima klaim pembayaran penanganan pasien walau telah diajukan sejak Oktober tahun lalu.

Salah satu yang masih belum menerima adalah Rumah Sakit Aisyiyah Kabupaten Kudus. Rumah sakit swasta tersebut juga, hingga kini juga belum menerima klaim pembayaran dari bulan Januari hingga Mei 2021 ini.

“Di tahun ini juga kami belum menerima klaim pembayaran kami yakni sebesar Rp 18 miliar,” ucap Direktur RS Aisyiyah dr Hilal Ariadi, Jumat (2/7/2021).

Hilal menambahkan, rumah sakit ini terakhir kali menerima dana klaim sebelum Oktober tahun lalu. Yakni sebesar Rp 5 miliar. Namun, penundaan pembayaran klaim yang terlalu lama juga berpengaruh terhadap arus kas rumah sakit.

Untuk bertahan di kondisi saat ini, rumah sakit mengandalkan klaim BPJS Kesehatan sekitar Rp 3 miliar per bulan. Serta penggunaan dana talangan untuk operasional rumah sakit.

“Kami harapkan klaim bisa segera terjadwal, karena rumah sakit swasta juga membutuhkan pemasukan untuk menjaga arus kasnya stabil di tengah biaya operasional harian yang tidak bisa kami tunda,” jelasnya.

Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus sendiri, klaim biaya penanganan pasien Covid-19 beberapa bulan di tahun 2020 juga belum cair. Padahal kini telah memasuki bulan Juli 2021.

“Dari hitungan kami, kami perkirakan kemampuan membayar kami masih cukup hingga bulan Agustus mendatang, dengan menggunakan dana klaim BPJS Kesehatan sekitar Rp 6 miliar per bulan,” ucap Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus Abdul Aziz Achyar.

Walau demikian, pihaknya berharap dana klaim bisa segera cair. Meskipun saat ini, RSUD masih memiliki dana cadangan yang berasal dari dana sisa lebih pembiayaan tahun sebelumnya hingga Rp 60 miliar.

“Kami juga ada dari hasil pembayaran pasien umum karena masih tersedia dua bangsal umum, bangsal jiwa, bangsal nifas dan bersalin serta PICU-NIKU yang tidak bisa diubah menjadi tempat isolasi corona,” sambungnya.

Di masa lonjakan seperti ini, tambah Aziz, biaya operasional untuk penanganan Covid-19 lebih besar dibanding sebelumnya. Mengingat terjadi penambahan kapasitas ruang dan peralatan perawatan yang cukup signifikan.

“Belum lagi biaya untuk keamanan tenaga kesehatan dan petugas lainnya yang setiap hari harus memakai alat pelindung diri (APD) yang pengeluarannya lebih dari Rp 10 miliar,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...