Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

15 Dokter Spesialis Anak di Jateng Terpapar Covid-19, Diduga Tertular dari Pasien

Ilustrasi. (Freepik)

MURIANEWS, Semarang – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jateng mencatat ada 15 dokter spesialis anak di Jawa Tengah (Jateng) terkonfirmasi positif Covid-19.

“Ini tenaga medis itu sudah kewalahan menangani Covid-19. Bahkan, laporan yang masuk ke kami ada 15 dokter anak yang terkonfirmasi Covid-19. Itu belum yang rekan sejawat [tenaga kesehatan],” kata Ketua IDAI Jateng, dr Fitri Hartanto seperti dikutip Solopos.com.

Ia tidak mengetahui penyebab pasti dari mana 15 dokter anak di Jateng itu terpapar Covid-19. Namun, ada kemungkinan para dokter anak ini terpapar Covid-19 dari pasien.

Berdasarkan data IDAI Jateng, hingga 20 Juni 2021 sudah ada 7.378 anak di Jateng yang terpapar Covid-19. Dari jumlah sebanyak itu, 382 anak merupakan bayi yang baru lahir atau berada di bawah usia 1 bulan. Sedangkan angka kematian yang dialami mencapai 55 anak.

“Itu laporan yang kami kumpulkan dari para anggota sejak bulan 5 [Mei 2021]. Jumlahnya sangat tinggi,” ujar Fitri.

Fitri pun meminta para orang tua lebih waspada dalam menjaga anak-anaknya dari bahaya virus Corona. Hal itu karena anak-anak juga rentan terhadap penularan Covid-19.

Orang tua atau yang memiliki anak di rumah diimbau untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat dan disiplin. Selain itu, anak-anak juga tidak dibiasakan untuk keluar rumah, terlebih diajak bepergian ke tempat-tempat keramaian, seperti mal maupun objek wisata.

“Ini perlunya edukasi terhadap orang tua. Kalau anak belum terlalu paham tentang prokes. Orang tuanya yang harus kita edukasi agar lebih paham dan meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19,” imbuhnya.

Ia juga meminta pemerintah lebih tegas dalam menerapkan kebijakan pencegahan penularan Covid-19. Salah satunya dengan meminimalisasi kerumunan masyarakat yang bisa memicu munculnya klaster penularan.

“Pemerintah saat ini masih kurang tegas. Contohnya kita masih bisa menemukan orang-orang berkerumun di warung-warung makan di pinggir jalan. Harusnya, kalau ada penegakan yustisi itu dibubarkan. Tapi, kenyataannya masih banyak,” kata Fitri.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...