Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Enam Bulan Terakhir Ada 59 Kasus DBD di Kudus, Satu di Antaranya Meninggal Dunia

Nuryanto, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) DKK Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) dari Januari-Juni 2021 mencapai 59 kasus. Dari jumlah tersebut satu pasien di antaranya meninggal dunia.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) DKK Kudus Nuryanto mengatakan, jika kasus DBD di Kudus tahun ini cenderung meningkat dari tahun sebelumnya.

Di mana, dalam kurun waktu yang sama di tahun 2020 lalu hanya terdapat 15 kasus DBD, dan empat di antaranya meninggal dunia.

“Kasus DBD tahun ini memang meningkat, tapi angka kematian ya terbilang rendah. Ini hanya ada satu kasus yang meninggal, kalau sepanjang tahun 2020 kemarin itu dalam waktu yang sama meninggal empat dan total dalam satu tahun meninggal lima,” katanya, Kamis (24/6/2021).

Dari kasus DBD yang tercatat selama setengah tahun terakhir, paling banyak berada di Kecamatan Jati, Kota, dan Kecamatan Bae. Lantaran memang di kecamatan tersebut merupakan wilayah yang padat permukiman penduduknya.

Sementara faktor yang memengaruhi kasus DBD lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, dikarenakan curah hujan di tahun ini terbilang cukup tinggi.

“Wilayah itu memang padat penduduk, yang memang biasanya banyak kasus DBD. Kebanyakan dari 59 kasus DBD itu memang rata-rata yang terkena itu anak-anak, ” jelasnya.

Ia menjelaskan, kasus kematian DBD kerap terjadi akibat keterlambatan deteksi dini dan penanganan medis. Di mana pasien baru diketahui terinfeksi DBD dan mendapat perawatan medis saat kondisinya sudah parah.

Untuk itu, pihaknya mengimbau masyarakat yang mengalami gejala DBD bisa segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat baik puskesmas ataupun rumah sakit.

Adanya peningkatan kasus tersebut, pihaknya sudah melakukan sejumlah upaya dengan melakukan penyelidikan epidemologi (PE), hingga penyemprotan insektisida atau fogging yang dilakukan setiap puskesmas.

“Kami juga sudah punya rapid test NS1 IgG/IgM untuk mendeteksi dini DBD,” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...