Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Sholat Idul Adha di Kabupaten Jepara Tidak Harus di Masjid atau Lapangan

Bupati Jepara Dian Kristiandi memimpin Rapat Forkompimda Jepara. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Jepara– Masyarakat Kabupaten Jepara diizinkan menggelar sholat Idul Adha 1442 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada 20 Juli mendatang. Namun, pelaksanaannya harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Selain itu, pelaksanaan Sholat Idul Adha di Kabupaten Jepara, juga tidak harus dilakukan di lapangan atau masjid. Pelaksanaannya bisa juga memanfaatkan musala untuk memecah kerumunan.

Pemberian ‘lampu hijau’ penyelenggaraan sholat Idul Adha itu mengemuka dalam rapat di Peringgitan dalam Pendopo Kartini, Rabu (23/6/2021). Forum yang juga membahas pelaksanaan kegiatan sholat Jum’at ini dipimpin Bupati Jepara Dian Kristiandi dan jajaran pimpinan Forkopimda.

Hadir pula para pimpinan ormas Islam serta pemuka lintas agama. Selain itu juga para tokoh masyarakat dan jajaran pejabat terkait di Pemkab Jepara.

Dian Kristiandi menuturkan, rapat tersebut sebagai upaya mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus aktif positif Covid-19 di Kabupaten Jepara. Di samping itu juga demi melindungi keselamatan dab kesehatan masyarakat.

“Kita memang harus mempunyai satu pemahaman yang sama untuk lebih mengedepankan kesehatan masyarakat. Mudah-mudahan penyebaran Covid-19 di Jepara bisa diminimalisir,” tuturnya.

Dalam kebijakan bersama, pihaknya memperbolehkan penyelenggaraan sholat Idul Adha. Meski begitu, Bupati Jepara menekankan agar tetap menerapkan prokes secara tegas.

“Tetap kita bisa lakukan seperti biasa, namun dengan pembatasan-pembatasan secara ketat,” kata Andi.

Selanjutnya, dirinya juga menandaskan mengenai ketentuan pengelolaan kurban. Mulai dari penyembelihan, pemotongan, hingga pengemasan harus dilakukan dengan prokes ketat. Termasuk pendistribusiannya dengan diantar langsung ke rumah penerima.

“Tidak mengundang, tapi panitia mengantarkan ke yang berhak menerima,” tandas bupati.

Dalam kesempatan itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara KH Fahrurrozi juga menganjurkan pelaksanaan sholat Idul Adha bisa dilakukan di musala terdekat dari tempat tinggal. Hal ini untuk memecah kerumunan yang bisa menjadi medium penularan Covid-19.

“Di musala-musala itu kita sarankan untuk diadakan salat Idul Adha,” ujarnya.

Hal senda juga dikatakan Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, M Nasrullah Huda. Menurutnya, agar pelaksanaanya bisa berjalan lancar, maka dibutuhkan peran aktif dari pemerintahan di tingkat desa. Baik petinggi dan perangkatnya, maupun Badan Permusyawaratan Desa.

“Termasuk juga hansip bisa dilibatkan untuk mengatur pemecahan kerumunan jemaah ini bisa dilaksanakan dengan baik,” kata dia.

Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan sejumlah ketentuan dan penekanan akan ditambahkan pada hasil rapat ini. Kebijakan bersama itu selanjutnya diwujudkan dalam bentuk surat edaran. Sehngga dapat menjadi pedoman bagi panitia maupun jamaah sholat Idul Adha.

Penulis: Budi erje
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...