Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Dinamika Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19

Ichda Zuhaida *)

BULAN Maret 2020, di Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus positif Corona Virus Covid-19. Saat itu, pemerintah mengumumkan sebagai kasus 01. Temuan itu akhirnya terus bertambah dan berpengaruh pula pada kegiatan belajar mengajar.

Puncaknya, di medio Maret 2020 pemerintah memutuskan untuk School from Home atau sekolah yang diselenggarakan di rumah masing-masing melalui daring sebagai kebijakan terbaik.

Lantas apa itu daring? Menurut KBBI, Daring adalah akronim dari dalam jaringan (KBBI V 0.4.0 Beta (40) – 2016). Ini artinya sebuah kegiatan yang terhubung melalui jaringan dan memanfaatkan teknologi seperti hp atau komputer yang sudah terinstal aplikasi pendukung. Contoh kegiatan daring antara lain: webinar, kelas online, kuliah online, bahkan KKN online (bdkjakarta.kemenag.go.id – 07-07-2020).

Pada awalnya di Indonesia belum terbiasa menggunakan cara ini, apalagi banyak di antara mereka adalah ibu rumah tangga yang harus mendampingi anak sekolah. Semua ibu yang masih mempunyai anak sekolah dipaksa untuk melek teknologi, juga harus mempunyai media yang memadai pula. Tak ayal semua orang berbondong-bondong belajar Zoom, Google Meet, dan aplikasi serupa untuk mengatasi kegagapan teknologi.

Ada juga yang sekolah menerapkan belajar via WhatsApp yang memang menguras emosi dan energi para orang tua pendamping, karena salah satu di antara guru hanya menjelaskan singkat, kemudian memberikan tugas yang dikumpulkan dengan tenggat waktu tertentu. Jika ada yang tidak mengumpulkan biasanya dianggap tidak mengikuti pelajaran dengan baik.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menggandeng TVRI sebagai penyedia layanan belajar. Di sana ada banyak siaran dari anak usia PAUD, TK, SD, SMP, bahkan SMA. Tentu ini adalah salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk tetap melakukan kegiatan belajar mengajar walaupun di era pandemi seperti saat ini.

Hal itu berimbas pada para orang tua, khususnya sang ibu yang mengalami kesulitas saat mendampingi anak sekolah daring:

Tidak semua ibu rumah tangga memakai jasa ART, sebagai seorang ibu yang kerjaannya di rumah pasti tidak bisa menghindari lagi semua pekerjaan domestik, seperti memasak, mencuci, menyapu, ngepel, bahkan menyetrika. Dengan adanya kegiatan daring yang dilakukan anak-anak di rumah, otomatis ibu akan melakukan pendampingan apalagi anak yang masih di sekolah TK atau SD.

Biar semua pekerjaan sudah selesai, biasanya ibu akan menyiapkan apa pun yang di perlukan besok pagi di malam harinya. Pada paginya ibu akan sedikit mengurangi beban pekerjaan sebelum daring dimulai pukul 07.00.

Jika sebagai ibu muda yang anak baru satu mungkin tidak terlalu berlebihan jika handphone ibunya dipakai untuk belajar daring, tetapi untuk anak yang lebih dari satu apalagi berbeda kelas besar kemungkinan dalam satu keluarga itu kekurangan media belajar.

Seperti yang dialami Mini (40 tahun), dia mempunyai tiga anak. Anak pertama kelas 2 SMA, anak kedua kelas 1 SMP, dan anak ketiga kelas 1 SD. Ia memang hanya memfasilitasi anak pertamanya untuk mempunyai HP. Namun, saaat pandemi datang dan kebiasaan sudah berubah, dia harus rela mengkredit dua hp baru untuk anak kedua dan ketiganya. Ia harus merelakan melakukan pengiritan karena jatah belanja sebagian akan dipakai untuk membayar cicilan HP setiap bulannya.

Untuk yang tinggal di perkotaan tentu saja ini tidak akan menjadi masalah. Namun, untuk yang tinggal di daerah mungkin mereka harus bekerja ekstra untuk mendapatkan sinyal yang bagus untuk mengikuti zoom atau google meeting. Ini dialami oleh mahasiswa semester pertama Fakultas Seni Ilmu Fotografi Institut Seni Indonesia Surakarta – Diana Tantri.

Dia mengaku, hanya provider tertentu yang sinyalnya bagus dan tidak terputus-putus saat melakukan kegiatan belajar mengajar via daring. Terkadang ia harus keluar rumah atau mencari tempat yang cukup sinyal agar kegiatannya tidak terhambat. Kalau sedang hujan, ia harus lebih bersabar lagi karena sinyal dari provider apa pun di rumahnya sangat sulit didapat.

Tidak bisa dipungkiri, sebagai ibu yang mempunyai beban pekerjaan yang banyak akan merasa sangat emosi saat anak tidak bisa bekerja sama saat daring. Hal ini dialami Tasmi (32 tahun) ibu dengan dua orang anak. Anak pertamanya kelas 1 SD, sedangkan anak kedua baru berusia tiga tahun. Hannan anak pertamanya memang sangat aktif, saat jam belajar akan dimulai, Hannan selalu saja punya alasan untuk keluar rumah, entah main, jajan, bahkan tidak jarang dia mengeluh ngantuk atau ingin buang air besar. Bagi Tasmi ini sangat menguras energi, belum lagi saat ia menjelaskan tentang soal atau pekerjaan rumah yang harus anaknya kerjakan dan Hannan belum juga lekas paham. Kegiatan semacam ini terus terjadi dan berulang, terkadang ia kelepasan emosi dan menaikkan nada bicara yang terkesan membentak-bentak anaknya.

Bagi seorang ibu hanya melakukan pekerjaan domestik yang berulang saja sudah terasa membosankan dan lelah, apalagi kalau ditambah dengan mendampingi anak daring yang ada-ada saja dramanya membuat ibu mengalami kelelahan jiwa dan raga. Tak ayal banyak dari mereka yang berharap pandemi segera berakhir dan mengembalikan anak-anak mereka kepada guru di sekolah agar kewarasan para ibu ini tetap terjaga.

Anak-anak di rumah, otomatis mereka punya kebiasaan baru yaitu bolak-balik masuk dapur dan buka-buka kulkas, apalagi kalau tidak mencari apa pun yang bisa dimakan sebagai camilan. Kalau tidak, mereka akan berubah menjadi tukang todong setiap ada abang-abang lewat depan rumah. Yang biasanya mereka akan jajan dengan seadanya uang saku, sekarang mereka akan merasa ada yang dimintain sehingga jadi tukang todong dadakan. Jadi, untuk menghindari pembengkakan pengeluaran, ibu cerdas semakin banyak uplek di dapur untuk membuat kreasi apa pun untuk membuat camilan anak-anak.

Saat sebelum pandemi, Anis (28 tahun) mengaku membudget kuota untuk paket data cukup Rp 100.000 untuk sebulan. Namun, saat daring tiba ia mengaku lebih boros karena google meet dan zoom tidak termasuk dalam paket unlimited yang dia beli. Terkadang dia harus mengeluarkan dua kali lipat dari jatah kuota biasanya. Hal ini jugga dialami oleh Mini, Tasmi, dan Diana Tantri. Mereka juga mengaku menjadi boros kuota saat daring. Mereka akan membeli lebih dari kuota biasanya. Bahkan Mini mengeluarkan Rp250.000 sebulan untuk membayar Wifi.

Sekolah dengan metode daring sebenarnnya tidak melulu tentang kesulitan, stress, dan kebosanan. Sekolah daring juga membawa banyak kebiasaan baru yang menguntungkan. Banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan ini.

Jadi Ibu Pembelajar

Saat daring, ibu mau tidak mau juga harus belajar lagi dan banyak membaca. Karena hal ini akibat tuntutan ibu menjadi guru dadakan. Perbedaan kurikulum anak-anak dengan kurikulum ibu pada zaman dulu. Dulu SD kelas 3 baru diharuskan bisa membaca, menulis, berhitung. Sekarang, saat pandemi pula anak-anak TK B diharuskan bisa membaca lancar dan menulis dikte. Itu memaksa ibu untuk belajar agar bisa mengajari anak-anak dengan mudah dan paham. Untuk ibu-ibu dengan anak baru masuk SD harus belajar menjelaskan apa yang dimaksud dari pertanyaan guru atau soal dari buku. Anak-anak sekarang dituntut harus bisa memainkan logikanya. Jadi, hal ini pun sangat penting untuk ibu banyak belajar.

Kreatif

Kalau di sekolah Ibu akan terima jadi, anak berangkat memastikan semua siap di dalam tas, kemudian tidak melupakan bekal dan uang saku di hari itu. Saat siang, ibu akan menunggu anak pulang dari sekolah. Saat malam, ibu hanya memastikan anak-anak mengerjakan PR dan menyiapkan jadwal untuk besok. Namun, berbeda dengan saat belajar daring. Ibu dituntut harus bisa menanggulangi rasa kantuk, malas, juga bosan yang dikeluhkan anak-anak saat belajar. Saat di sekolah ini semua tugas guru, tetapi di rumah guru dadakan yang harus menanggulangi itu semua. Maka dari itu, ibu belajar menjadi kreatif, entah dengan permainan, teka-teki, atau kuis berhadiah.

Menemukan Menu Baru

Saat ibu berpikir harus berhemat, ia harus menciptakan menu baru atau belajar memasak menu baru yang belum pernah ia coba sebelumnya. Ibu bahkan rajin membuka aplikasi cookpad, membaca food blogger, bahkan melihat food vloger di youtube. Setelah satu tahun setengah ia belajar, akhirnya sekarang dengan lihai membuat makanan-makanan enak, kue bolu coklat, atau puding warna-warni yang belum perah ia coba sebelumnya.

Rajin Bangun Pagi

Ibu yang biasanya akan malas-malasan dulu setelah salat Subuh, saat sekolah daring ibu menjadi rajin bangun pagi. Entah untuk olahraga setelah melakukan kegiatan domestik atau memang supaya pekerjaan domestik cepat selesai agar tenang mendampingi anak belajar.

Lebih Bisa Mengawasi Anak

Saat di sekolah, pengawasan dilakukan oleh guru atau wali kelas. Namun, saat daring orang tua terutama ibu lebih bisa mengawasi anaknya seharian penuh. Dia akan tahu bagaimana anak saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Saat di rumah, walaupun anak biasanya akan mengentengkan karena yang di depannya bukan guru atau orang lain, melainkan ibunya.

Membangun Kedekatan dengan Anak

Seorang ayah mengaku, selama ia Work Form Home bisa menjadi lebih dekat dengan anaknya. Anak perempuan pertamanya baru berusia 6 tahun ia sekolah di TK B, seringkali anaknya ingin belajar ditemani olehnya. Kegiatan daring juga bisa membangun kedekatan antara ibu dan anak. Biasanya ibu yang cuek akan mau nggak mau meletakkan HP-nya atau kegiatan yang lain untuk mendampingi anak belajar. Tentu tidak terelakkan, menurut Azka (8 tahun) dia sangat senang saat daring karena ibunya menemaninya saat belajar. Biasanya ia akan dibiarkan belajar sendiri saat mengerjakan PR dan ibunya akan menemani adiknya bermain.

Anak Belajar Membantu Ibu

Saat daring tentu saja lama waktu belajar berbeda dengan saat di sekolah. Hal ini akan menguntungkan ibu karena lebih banyak waktu untuk mengajari anak membantu pekeerjaan rumah. Memberikan sedikit tanggung jawab selama di rumah seperti mencuci piring, menyapu, bahkan membereskan kamar. Biasanya orang tua akan membiarkan pekerjaan itu untuk dirinya sendiri. Namun, karena pandemi dan sekolah harus dilakukan melalui online, anak-anak lebih banyak waktu di rumah. Mereka juga akan di rumah saja entah melakukan permainan atau bermain dengan mainannya. Jadi, ini adalah waktu yang baik untuk anak-anak mulai belajar melakukan pekerjaan domestik.

Ayah Lebih Sering Memuji Ibu

Dari semua point, hal yang paling menyenangkan adalah point kedelapan ini. Bagaimana tidak? Semua orang tahu bahwa banyak di antara laki-laki yang jarang mengekspresikan cintanya melalui kata-kata. Menurut Imah (29 tahun) selama sekolah daring, suaminya lebih sering memujinya dibanding sekolah tatap muka. Suaminya akan mengatakan hal-hal yang membuat sedikit rasa lelahnya menguap. Seperti, “Terima kasih, Sayang. Sudah menemani anak-anak daring dengan sabar.” Ia mengatakan di pagi hari sebelum berangkat bekerja. Tentu saja ini membuat Imah tersenyum senang.

Itulah beberapa hal menarik dan ceritanya saat pandemi dan kegiatan belajar melalui daring. Menurut penulis, semua sesuatu yang dimulai akan berakhir. Begitulah semesta bekerja. Walaupun sejatinya tidak ada yang mau memulai pandemi, tetapi alam menyuruh kita untuk lebih bersabar. Terutama menahan diri untuk tidak keluar rumah apabila tidak darurat.

Semua orang berusaha menjaga protokol kesehatan supaya tidak menyebar lebih luas lagi. Termasuk dalam bidang pendidikan, pemerintah juga sampai saat ini memberlakukan sistem School From Home sampai 1,5 semester sebagai upaya mencegah penyebaran.

 

*) Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kudus

Comments
Loading...