Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Suluk Maleman, Membangun Kewaspadaan Penularan Covid-19 Saat Hari Raya Iduladha

Anis Syoleh Baasyin dalam Suluk Maleman. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Pati – Tak lama lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Iduladha. Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini, membangun kewaspadaan agar tidak terjadi kerumunan sangat penting.

Mengingat, usai Hari Raya Idulfitri kemarin, terjadi peningkatan kasus covid hampir di semua wilayah Jawa Tengah. Atas refleksi itu, membangun kewaspadaan saat Iduladha tidak bisa dielakkan lagi. Potensi kerumunan pada hari bersar itu, harus diminimalkan

Hal ini menjadi topik perbincangam hangat dalam suluk maleman edisi 114 yang digelar secara virtual, Sabtu (18/6/2021).

Dr Abdul Jalil sebagai salah satu narasumber mengatakan, perayaan Iduladha patut mendapatkan perhatian serius. Terlebih dalam prosesi penyembelihan hewan kurban yang dinilai rawan menyebabkan kerumunan warga.

Namun pihaknya menyayangkan belum ada upaya maupun langkah antisipasi pemerintah dalam penanganannya.

“Di Kudus sendiri ada sekitar 800 masjid. Jika dihitung dengan musala ada sekitar 1.800an. Ini potensi kerumunan luar biasa. Kalau tidak diantisipasi akan meledak lagi. Tapi sampai sekarang ini belum ada skenario penanganan apapun,” katanya.

Pihaknya pun berharap pemerintah mau duduk bersama untuk membaca data sehingga penanganannya bisa dilakukan dengan baik. Terlebih dalam membuat standar operasional yang baik.

“Harapan kami tentu ibadah tetap bisa berjalan dengan baik. Prokes berjalan dengan baik, covid juga terkontrol,” tegasnya.

Di luar masalah tersebut, Abdul Jalil juga menyesalkan bahwa meski dengan prokes ketat salat Jumat tetap tidak dapat diselenggarakan. Sementara di sisi lain mal dapat tetap buka dan ramai.

Sementara Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Daerah Istimewa Yogyakarta Dr. dr. Darwito menekankan tentang betapa pentingnya pemerintah daerah dalam menggandeng universitas yang memiliki epidemiolog.

“Persoalan covid bukan hanya persolan kesehatan pribadi tapi masyarakat. Makanya perlu pendekatan kesehatan masyarakat. Seharusnya Pemkab bisa menggandeng epidemiolog untuk pengambilan kebijakan; sehingga sebelum terjadi tren kenaikan sudah bisa dilihat arahnya dan bisa dilakukan persiapan atau kalau perlu pencegahan,” tegasnya.

Dia menyebut betapa pentingnya keberadaan tempat isolasi terpusat atau shelter. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah kolapsnya rumah sakit karena kelebihan kapasitas; sekaligus mencegah OTG atau mereka bergejala ringan memperluas penularan sehingga membuat ledakan kasus.

“Harusnya ada pemilahan yang jelas. Rumah sakit hanya disiapkan bagi pasien yang bergejala sedang sampai berat. Untuk yang bergejala ringan, apalagi tanpa gejala, cukup di tempat isolasi terpusat. Jangan di rumah kalau tidak memiliki fasilitas yang memadai,” tambahnya.

Bila perlu tempat isolasi terpusat itu didirikan di tiap desa bahkan dukuh. Pasalnya orang akan merasa lebih nyaman jika ditempatkan di dekat tempat tinggalnya. Untuk kebutuhannya bisa dipenuhi dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten bahkan masyarakat yang mampu pun bisa diajak untuk bergotong royong.

“Untuk tenaga medisnya mungkin dokter dan perawat digilirkan dari puskesmas. Berkeliling dari satu tempat isolasi ke yang lainnya. Dengan begitu rumah sakit tidak akan kolaps. Karena kalau rumah sakit over kapasitas tentu tenaga kesehatan juga akan kewalahan padahal melahirkan dokter itu butuh waktu yang lama,” terangnya.

Anis Sholeh Baasyin penggagas Suluk Maleman menyebut, keterbukaan informasi dan transparansi data soal covid memang menjadi penting dilakukan dalam penanganan pandemi. Ketidak jelasan informasi ditambah muncul banyaknya hoaks membuat masyarakat kebingungan.

“Akhirnya yang terjadi ada dua hal kalau tidak membuat masyarakat paranoid atau ketakutan luar biasa juga bisa membuat warga justru menjadi abai dan tidak peduli,” tegasnya.

Anis menyebut bahwa gelombang pandemi kali ini salah satunya diakibatkan karena kurang dan tidak transparannya data yang beredar sebelumnya. Ditambah kenyataan semakin kendornya 3 T oleh pemerintah.

Padahal data tentang ini menjadi sangat penting untuk menjaga kewaspadaan masyarakat sekaligus menjadi sistem pengingat dini terhadap bahaya yang mungkin akan datang.

Selain itu, itu Prof. Dr. Saratri Wilonoyudho menambahkan, kecuali transparansi dan sistem pendataan yang baik, perlu juga adanya pendekatan sosial budaya dan keagamaan dalam penanganan Covid-19.

Terutama komunikasi antar pemangku kepentingan. Baik pemerintah daerah, aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat maupun akademisi.

”Tanpa ada keterbukaan dan kerja sama yang baik dari para pemangku kepentingan ini; penanganan menyeluruh terhadap pandemi kali ini akan jauh panggang dari api,” tandasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...