Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Internalisasi Nilai-Nilai Kebangsaan di Sekolah Pada Musim Pandemi Covid-19

Laela Khoerun Nisa’ *)

INDONESIA merupakan negara dengan asas dasar keTuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan yang dapat disebut dengan Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara terbentuk dari ciri-ciri yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu masyarakat yang majemuk terdiri dari suku, ras, bahasa, adat istiadat dan agama yang berbeda-beda.

Kemajemukan tersebut seringkali melahirkan permasalahan-permasalahan yang mengganggu kestabilan negara misalnya seperti adanya kelompok yang menginginkan perubahan ideologi negara, radikalisme, terorisme, dan menurunya rasa dan sikap nasionalisme.

Permasalahan yang muncul di permukaan bangsa ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti kurangnya pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Pilar ini menjadi tonggak untuk mencapai tujuan dan cita-cita bangsa ini kemudian pilar ini juga melahirkan beberapa nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam pilar tersebut yang di mana harus diimplementasikan dan juga diinternalisasikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu bidang yang sangat berpengaruh dalam memegang teguh atau ketahanan bangsa dalam mengamalkan empat pilar kebangsaan adalah di bidang pendidikan. Dalam KMA Nomor 184 Tahun 2019 pada BAB IV ayat 3 disebutkan bahwa pengembangan muatan lokal mendukung terwujudnya empat pilar kebangsaan Republik Indonesia (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika).

Pada Bab V ayat 1 disebutkan pula bahwa madrasah menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler sebagai suplemen dari usaha pengembangan potensi, bakat, minat dan karakter peserta didik. Dan pada ayat 3 Pramuka menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib.

Selanjutnya pada ayat 4 disebutkan bahwa Kegiatan ekstrakurikuler meliputi: Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Palang Merah Remaja (PMR), PASKIBRA, olah raga, seni, pengembangan riset dan teknologi, komunikasi, pembinaan olimpiade/kompetisi sains, pecinta alam, keagamaan Islam, keputrian, pengembangan bahasa, kewirausahaan dan kegiatan lain yang menjadi keunggulan madrasah.

Di bidang inilah fase pertama yang terpenting dalam mengajarkan 4 pilar kebangsaaan dan juga nilai-nilai kebangsaan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Menurut Kemendiknas nilai-nilai kebangsaan yaitu terdiri dari religius, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Nilai-nilai tersebut terangkum di dalam empat pilar kebangsaan. Dalam pelaksanaan internasilasi nilai-nilai kebangsaan yang di terapkan dalam lingkup madrasah misalnya saja seperti kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah, ekstrakulikuler, lomba atau kompetisi, kegiatan peduli lingkungan, upacara setiap hari senin dan pada hari besar, pemilihan ketua OSIS dan kegiatan lainnya yang menggambarkan atau mewujudkan daripada nilai-nilai kebangsaan tersebut. Namun, kegiatan tersebut mulai tahun 2019 cenderung tidak dilakukan dikarenakan wabah Covid-19 yang melanda di seluruh negara.

Wabah tersebut berpengaruh terhadap berbagai sektor kehidupan terutama di bidang pendidikan, banyak sekali perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah. Seperti misalnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dilakukan secara daring (dalam jaringan), kegiatan peserta didik seperti ekstrakulikuler ditiadakan bahkan upacara dilakukan secara virtual.

Hal tersebut berpengaruh terhadap kondisi mental peserta didik dan juga sangat berpengaruh terhadap turunya pemahaman  nilai-nilai kebangsaan yang sudah diajarkan oleh guru. Apakah peserta didik  dapat memahami dan mengerti bagaimana mengamalkan nilai-nilai tersebut tanpa adanya interaksi langsung dan juga apa tolak ukur yang dijadikan bahwa peserta didik telah mengamalkan nilai itu.

Kekhawatiran yang muncul pada peserta didik ketika KBM daring yaitu guru tidak bisa memantau perkembangan pada peserta didik, situs apa saja yang diakses, apakah mereka mengikuti aliran-aliran yang tidak diketahui, tidak dapat memfilter informasi baik secara langsung ataupun online, yang di karenakan segala akses pendidikan dilayani melalui online dapat dianggap sebagai dalih memicu lahirnya gerakan-gerakan yang dapat mengganggu kestabilan dan keamanan negara.

Terjadinya hambatan dalam sistem pembelajaran dan pengajaran peserta didik yang dialami selama pandemi Covid-19, akan tetapi dapat dilakukan monitoring melalui setiap mata pelajaran untuk bisa menyelipkan pemahaman atau sikap dari nilai-nilai yang terkandung dalam wawasan kebangsaan di atas.

*) Mahasiswa Pascasarjana IAIN Kudus

Comments
Loading...