Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kedelai Mahal, Produsen Tahu di Kudus Terpaksa Naikkan Harga Jual

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Biaya produksi tahu saat ini merangkak naik. Penyebabnya, bahan pokok berupa kedelai terus mengalami kenaikan.

Alhasil, penjual tahu mau tak mau terpaksa menaikkan harga jual. Ketua Paguyuban Kelompok Tahu Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus, Bambang Sutrisno mengatakan setelah Lebaran biaya produksi naik.

Menurutnya, harga kedelai impor yang awalnya Rp 7 ribu per kilogram, saat ini menyentuh angka Rp 10.600 per kilogram. Bambang mengatakan harga itu merupakan tertinggi sejak 1990.

“Harga satu ember tahu atau setara tiga papan dari yang dulu kami jualnya Rp 60 ribu, sekarang menjadi Rp 80 ribu,” katanya, Sabtu (19/6/2021).

Disebutkan, haarga tahu per papan dari yang dulu seharga Rp 22 ribu, saat ini naik menjadi Rp 28 ribu. Permintaan dari pelanggan menurutnya, banyak yang menginginkan agar ukuran tahu diperkecil, sehingga pengecer bisa menjual dengan harga tak kelewat mahal dan mendapat keuntungan.

“Sejauh ini pelanggan saya dari Purwodadi. Mereka ya meminta agar ukurannya diperkecil. Ya saya penuhi. Intinya saya ngikuti pelanggan saja kalau ada yang minta diperkecil ya saya perkeci,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, ukuran tahu per papan jika diperkecil bisa menjadi 160 tahu. Sedangkan ukuran besar atau normal bisa 49 tahu per papan. Dalam sehari, Bambang mampu memproduksi 7 kuintal tahu atau 70 kali memasak.

Kendati harga produksi dan harga jual naik, sejauh ini tidak ada keluhan dari pembeli. Respon pasar dengan adanya kenaikan harga disebutnya masih bagus.

“Permintaan sejauh ini ke Purwodadi dan masih stabil tidak ada keluhan. Kebanyakan mereka minta agar ukuran tahu diperkecil,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...