Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Warga Boyolali Terjerat Pinjaman Online, Utang Rp 900 Ribu Bayar Rp 75 Juta

Ilustrasi (Freepik)

MURIANEWS, Boyolali – Seorang warga Boyolali berinisial S, (43) mengaku pernah terjerat pinjaman online ilegal.  Ia bahkan terjerat 27 aplikasi pinjaman online ilegalHal ini membuatnya kapok karena terlilit utang yang awalnya Rp 900 ribu membengkak sampai Rp 75 juta.

Kisah tragis itu dialami S sekitar dua bulan lalu saat membutuhkan uang. Dia pun mendapatkan informasi tentang jasa pinjaman online melalui media sosial.

Awalnya warga Boyolali itu meminjam uang Rp 900 ribu melalui salah satu aplikasi pinjaman online. Sayangnya penyedia jasa itu ternyata ilegal, sehingga dia kewalahan membayar utangnya yang menumpuk.

Dari utang yang diajukan, dia hanya menerima uang Rp 500 ribu. Namun, dia tetap harus mengembalikan senilai pinjamannya, yakni Rp 900 ribu plus denda jika telat membayar, sebesar Rp 40 ribu per hari.

“Nilai pinjaman Rp 900 ribu, tapi saya terima hanya Rp 500 ribu, kemudian kembalinya tetap Rp 900 ribu. Misal telat sehari denda Rp 40 ribu. Awalnya dari iklan muncul di Facebook, Instagram, dan sebagainya,” katanya kepada Solopos.com, Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, jika aplikasi pinjaman online itu legal dan bisa memanfaatkan mungkin bisa dengan pertimbangan khusus. Tapi untuk ilegal, ia merasakannya sangat memberatkan dan akan menjerat.

“Bunga tidak masuk akal dan cara penagihan yang tidak manusiawi. Kalau mau pinjam, ya teliti dulu [legal atau ilegal], tapi itu langkah kesepuluh. Langkah satu sampai sembilan bagi saya sekarang ya jangan pinjam,” katanya.

Pada iklan itu dikatakan jangka waktu pengembalian pinjaman 90 hari dan bunga hanya berapa ribu rupiah. Namun, warga Boyolali itu, mengatakan setelah mengeklik aplikasi pinjaman online, di situ tertulis waktu pengembalian hanya tujuh hari dengan bunga yang tidak seperti disebutkan di awal.

Selain itu ketika ia menekan tombol pada aplikasi itu, bukan hanya satu perusahaan pinjaman yang menyetujui, namun ada beberapa.

S mengatakan sekali pencet, pinjaman yang diajukan bisa disetujui sampai lima pihak. Namun tidak semuanya mengirimkan uang yang ia pinjam.

“Sekali klik, misalnya perusahaannnya namanya Badak, tapi nanti yang menyetujui bisa Badak, Anaknya Badak, dan sebagainya. Tahu-tahu di akhir program yang menagih kita banyak,” jelasnya.

Setelah mengalami hal tersebut, warga Boyolali itu mengaku kapok dan tidak akan mengulangi lagi meminjam uang lewat aplikasi pinjaman online.

Warga Boyolali itu menjelaskan saat ada keterlambatan pembayaran, pengelola pinjaman online ilegal akan menagih dengan cara tidak manusiawi. Penagihan itu kadang juga menyasar teman-temannya yang nomor kontaknya tersimpan di HP miliknya.

“Karena kalut ya sudah dibayar semuanya. Itu saya sekitar dua atau tiga bulan lalu. Dari pinjaman Rp 900 ribu total menjadi Rp 75 juta. Sebab gali lubang tutup lubang, juga lewat aplikasi,” sambung dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...