Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kudus Dianggap Jadi Biang Klaster Covid-19 di Sejumlah Daerah, Ini Tanggapan Bupati

Salah seorang pengunjung toko modern di Kudus dirapid antigen karena tak patuh imbauan di rumah saja. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus ditengarai menjadi biang dari sejumlah klaster penularan Covid-19 di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Klaster-klaster itu muncul ditengarai lantaran ada salah satu warga yang pernah berkunjung ke Kabupaten Kudus, dan terpapar. Klaster ini tersebar mulai dari Wonogiri, Klaten, hingga Boyolali.

Bupati Kudus HM Hartopo pun merasa sedikit terusik dengan hal tersebut. Namun, pihaknya memastikan tak akan mempermasalahkan itu, dan akan fokus pada penanganan Covid-19 di daerahnya.

“Biar jadi motifasi kita saja, bagaimana kita bisa menurunkan angka Covid-19 di Kabupaten Kudus ini,” ujar Hartopo ketika dijumpai awak media usai peresmian shalter Pesantren Covid-19 milik Universitas Muhammadiah Kudus (UMKU), Rabu (16/6/2021).

Pemkab Kudus sendiri, sampai kini masih belum mengetahui sumber penularan Covid-19 terutama pada varian delta. Namun pihaknya memastikan akan berupaya keras menekan angka penularan Covid-19.

“Semua menuduh dari Kudus terus, tapi kami juga tidak tahu, kami hanya akan berupaya memutus rantai penularan secepatnya,” tegas Hartopo.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus juga mulai menelusuri para kontak erat ke 28 pasien Covid-19 varian B1.6.1.7.2 atau delta asal India yang berada di Kabupaten Kudus. Masing-masing spesimen, akan ditelusuri kontaknya setidaknya sepuluh orang.

Masing-masing kontak erat tersebut, kemudian akan diambil sampel genomnya. Untuk kemudian dilakukan pengetesan Whole Genome Sequencing (WGS) di Universitas Gajah Mada.

Kepala DKK Kudus Badai Ismoyo menyampaikan kondisi saat ini, varian delta memang telah terindikasi berada di Kabupaten Kudus. Namun, belum tentu juga varian tersebut juga yang membuat ledakan Covid-19 di Kabupaten Kudus pasca Lebaran kemarin.

Baca: Klaster Kudus di Dua Kecamatan Wonogiri Meluas, Bupati: Kini Ada 44 Orang yang Positif

Badai mengatakan, masih ada kemungkinan banyak orang terpapar karena maraknya kerumunan yang terjadi sebelum maupun setelah Lebaran. Kondisi tersebut juga diperparah dengan kondisi masyarakat yang belum melakukan vaksinasi.

“Karena dari 34 spesimen, hanya 28 saja yang terpapar varian delta, tidak semuanya. Masih ada kemungkinan itu varian biasa yang memang bisa mengenai orang-orang belum tervaksin,” ujar Badai.

Dari 28 sampel tersebut pula, lanjut dia, tidak cukup untuk dijadikan acuan jika varian baru sudah menyebar di Kudus. Menurutnya, harus ada setidaknya sepuluh persen spesimen yang dites dan menunjukkan adanya varian delta dari jumlah spesimen yang ada saat ini.

“Kriteria yang boleh dites juga tidak asal, karena varian delta (katanya) lebih cepat menular dan lebih kuat, maka yang dites adalah spesimen positif yang sudah divaksin sebanyak dua kali,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...