Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Schmeichel Sebut UEFA Tidak Memberi Banyak Pilihan Pada Tim Denmark Terkait Insiden Eriksen

Schmeichel sebut UEFA tidak memberi pilihan banyak pada Denmark, terkait insiden Eriksen.(facebook.com/Peter Schmeichel’s official)

MURIANEWS, London- Insiden pingsannya gelandang Denmark Christian Eriksen pada pertandingan Grup B saat melawan Finlandia terus berbuntut. Setelah sempat menyatakan ditunda, UEFA akhirnya menyatakan pertandingan itu dilanjutkan beberapa jam.

Keputusan UEFA ini sempat menimbulkan perdebatan, karena hal itu dianggap yang tidak sepatutnya dilakukan. Dari pertandingan itu akhirnya tim Denmark akhirnya mengalami kekalahan 0-1 dari Finlandia.

Mantan kiper Denmark dan MU, Peter Schmeichel mengklaim para pemain Denmark sebenarnya tidak ingin memulai kembali pertandingan melawan Finlandia itu. Kejadian itu telah menimbulkan trauma di kalangan pemain setidaknya pada saat itu terjadi.

Legenda Tim Nasional Denmark yang juga ayah dari kiper Timnas Denmark saat ini, Kesper Schmeichel ini, juga menyatakan, pada akhirnya para pemain Denmark tidak memiliki pilihan lain. Sehingga dengan terpaksa mereka akhirnya keluar ke lapangan dan melanjutkan pertandingan itu.

Pernyataan ini dilontarkan oleh Schmeichel kepada Good Morning Britain seperti yang dikutip oleh Dailymail, Senin (14/6/2021). Bahwa UEFA menyebut bahwa pertandingan itu dilanjutkan setelah ada kesepakatan dari pemain kedua tim, menurutnya itu masih merupakan perdebatan.

“Itu adalah perdebatan yang menarik. Saya benar-benar melihat kutipan resmi dari UEFA kemarin yang mengatakan bahwa mereka mengikuti saran pemain, para pemain bersikeras untuk bermain, dan saya tahu itu tidak benar,” ujarnya.

Schmeichel kemudian menyebutkan, para pemain Denmark saat itu diberikan tiga opsi oleh UEFA. Pertama memainkan pertandingan lagi secepatnya, atau melanjutkannya pada hari Minggu jam 12 siang. Serta terakhir kalau tidak segera melanjutkan Denmark akan dinyatakan kalah 0-3.

“Jadi selesaikan sendiri. Apakah keinginan para pemain untuk bermain? Apakah mereka benar-benar punya pilihan? Saya tidak berpikir mereka punya. Seperti yang dapat Anda dengar dari konferensi pers kemarin, pelatih, dia sangat menyesal menempatkan para pemain kembali ke lapangan, ” serang Schmeichel.

Peter Schmeichel pada akhirnya menyebut bisa saja efek insiden itu terhadap para pemain Denmark mempengaruhi penampilan mereka. Tidak hanya itu, bisa saja ini akan berdampak terus bagi para pemain Denmark.

“Sangat sulit untuk mengatakan dengan tepat apa dampak jangka panjangnya, bagi para pemain dari kejadian itu. Setahu saya setelah berbicara dengan Kasper, dampaknya menimbulkan traumatis bagi semua orang. Ini adalah adegan yang sangat dramatis ketika seseorang harus menjalani defibrilasi dan disetrum untuk hidup kembali,” tambah Schmeichel.

Eriksen, gelandang Inter Milan, pingsan di tengah lapangan dan mendapatkan perawatan awal di tengah lapangan. Hal ini terjadi sebelum si pemain dibawa ke rumah sakit. Dokter tim Denmark Morten Boesen, sempat menyebut Eriksen sudah ‘pergi’ sebelum kemudian terjadi keajaiban.

Rekan satu tim Eriksen kemudian membentuk perisai di sekelilingnya saat dia dirawat di lapangan. Situasi ini bahkan sempat disiarkan langsung tanpa jeda oleh sebuah stasiun televisi, hingga menimbulkan sebuah keprihatinan.

Sementara itu, Profesor Sanjay Sharma, seorang ahli jantung di Rumah Sakit Universitas St George di London dan direktur medis untuk London Marathon, mengatakan bahwa Eriksen tidak mungkin dapat melanjutkan karir bermainnya.

“Jika kita berasumsi dia terkena virus, maka itu pasti akan menyebabkan peradangan dan meninggalkan bekas luka di jantung. Jika sesuatu seperti itu mampu menyebabkan kematian jantung mendadak beberapa hari yang lalu, maka ada kemungkinan bekas luka yang tersisa bisa melakukannya di masa depan,” ujarnya seperti dikutip Dailymail.

Upaya yang bisa dilakukan, menurutnya adalah ‘menanamkan’ alat yang disebut cardioverter-defibrillator yang mengawasi jantungnya siang dan malam. Namun demikian semuanya juga kembali pada si pemain sendiri.

“Tetapi apakah dia berkompetisi lagi tergantung pada banyak faktor. Jiwanya sendiri, diskusinya dengan istri dan anak-anaknya dan juga undang-undang di berbagai negara. Misalnya, di Italia di mana dia berkompetisi, dia pasti tidak akan bisa bermain sepak bola lagi,” tambahnya.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: dailymail.co.uk

 

Comments
Loading...