Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Memaknai Tradisi Tiongkok Peh Cun

Moh Rosyid *)

ISTILAH Duanwu Jie, Festival Peh Cun/Pe Leng Cun/Pe Liong Cun dari bahasa Hokkian bermakna mendayung perahu naga. Perayaan tahunan ini digelar oleh warga Tionghoa ini tiap tanggal 5 dan bulan 5 dalam penanggalan Imlek sejak era Dinasti Zhou.

Kekhasan tradisi ini adalah perlombaan mendayung perahu naga dan makan bakcang. Tradisi ini terinspirasi kisah Menteri Negara Chu (Hanzi) bersatu dengan Negara Qi untuk berperang dengan negara Qin. Chu direspon negatif oleh sebagian keluarga kerajaan Chu, sehingga ia bunuh diri melompat ke Sungai Miluo pada tanggal 5 bulan 5. Simpatisannya mencari jenazahnya dengan melemparkan nasi dan makanan ke sungai agar dimakan ikan, sehingga ikan tak memangsa jenazah Chu.

Hari ini, Senin 14 Juni 2021 bertepatan dengan perayaan Peh Cun yang masih dirayakan oleh warga Tionghoa. Tradisi perayaan ini diawali menaruh makanan di altar rumah warga Tionghoa.

Sajiannya berisi daging (bakcang) dan tanpa isi daging  (kuehcang), ada pula jeruk, apel, peer, mangga, jambu, dan nanas. Makanan tersebut diambil Senin sore harinya. Tatkala menaruh makanan di altar, doa persembahan yang dipanjatkan pada leluhur yakni:

“Sembah sujud syukur kehadirat Emak, Engkong, para leluhur yang memberi berkah, rahmat, kesehatan, kekuatan, dan dijauhkan dari bahaya. Hari ini Senin, 14 Juni 2021 menghaturkan sembah sujud syukur berupa kue, buah bila ada kekurangannya mohon ampunan dan diberikan maaf. Kami sekeluarga menghaturkan banyak terima kasih, ban ban Kamsia, Sheng Ling Bao Hu (Para Roh Suci memberikan perlindungan). Rahayu, Rahayu, Rahayu, Shanzai”.

 

Memaknai Peh Cun

Pemahaman warga Tionghoa di Indonesia atas sejarah leluhurnya di Tiongkok masa lalu sebagai pijakan mentradisikan bila dilandasi cinta budaya. Kecintaan ini memerlukan sosok yang mumpuni dalam mengisahkan pada generasinya.

Sosok inilah yang perlu diuri-uri keberadaannya karena lazim berusia senior. Selain itu, ajaran dan sejarah perayaan tradisi Tiongkok masa lalu akan dilestarikan tiap generasi dengan optimalisasi penerbitan buku tradisi kuno, selain membuat blok dan fitur di media online.

Mengapa hal ini penting?. Karena bila sebuah generasi tercerabut dari akar budayanya maka kecintaan pada leluhur pun tercerabut. Imbasnya, nihil penghormatan pada kiprah leluhur.

Tantangan terbesar lestarinya tradisi Tionghoa adalah surutnya semangat memahami tradisi akibat tidak ditradisikan oleh seniornya. Aspek lainnya, tradisi Tionghoa lazim dipertahankan oleh umat Khonghucu.

Di sisi lain, eksistensi umat agama tersebut kalah “bertanding” dengan umat agama lain akibat era Orde Baru, agama Khonghucu dan tradisi Tiongkok dibonsai hingga lumpuh. Hadirnya Pesiden Gus Dur dalam menghidupkan kembali agama Khonghucu dan tradisi Tionghoa di Nusantara bila tidak direspon umat Khonghucu dengan kerja keras maka upaya Gus Dur nihil makna.

Kegairahan umat Khonghucu membangkitkan ajarannya nampak dengan berdirinya Sekolah Tinggi Agama Khonghucu (STIKIN) di Purwokerto yang diresmikan sejak 9 Februari 2021. Kampus ini harus didukung optimal oleh umat Khonghucu di mana dan dari mana pun, karena alumninya dijadikan sosok penebar ajaran Konfusius dan tradisi leluhur dari Tiongkok. Nuwun.

 

*) Penulis adalah dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...