Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kasus Covid-19 Meningkat, Keterisian Tempat Tidur Rumah Sakit di Solo Nyaris Penuh

Ambulans melintasi Jl. Urip Sumoharjo, Jebres, Solo, Jumat (11/6/2021). Semakin meningkatnya kasus positif Covid-19 di Kota Solo sejumlah ruang isolasi pada rumah sakit swasta Solo penuh. (Solopos/Nicolous Irawan)

MURIANEWS, Solo – Meningkatnya kasus harian Covid-19 di Kota Solo dan daerah sekitarnya membuat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) ruang isolasi di rumah sakit (RS) di Soloraya meningkat dan sebagian hampir penuh.

Bahkan BOR tempat tidur isolasi intensive care unit (ICU) Covid-19 di RS swasta di Kota Bengawan dilaporkan mendekati penuh pada Jumat (11/6/2021). Sementara itu, keterisian ruang isolasi Covid-19 biasa mencapai 70%. Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, Jumat sore, mengklaim angka itu masih longgar.

“Sebenarnya masih longgar untuk BOR isolasi Covid-19 biasa. Di angka 60% mendekati 70%. Nah, yang ICU sudah mendekati penuh. Kalau ICU kan tergantung kebutuhan. Bed isolasi biasa diubah menjadi ICU juga bisa. BOR Covid-19 ICU sudah 80%, iya agak tinggi. Tapi, saya rasa, RS bisa mengubahnya sesuai kebutuhan,” jelasnya seperti dikutip Solopos.com.

Ahyani mengaku bakal mengumpulkan manajemen rumah sakit Solo dalam waktu dekat guna berkoordinasi menambah ruang isolasi dan mengantisipasi bed penuh menyusul lonjakan kasus beberapa pekan terakhir.

Saat kasus meningkat pada tahun lalu, jumlah tempat tidur yang disiapkan mencapai 800-an hingga 1.000-an. Kini, jumlah tempat tidur isolasi yang tersedia maksimal 600-an hingga 800-an.

“Seperti tahun lalu itu kan RSUD dr. Moewardi sempat mengubah satu bangunan khusus untuk Covid-19. Senin [14/6/2021] mau dirapatkan lagi,” jelasnya.

Gejala rumah sakit Solo yang hampir kembali penuh juga tergambar dalam data di laman corona.jatengprov.go.id, Jumat malam. RSUD dr. Moewardi Solo sedang menampung 117 pasien aktif, RSUD Bung Karno Solo 17 pasien, RS Jiwa Daerah Solo 14 pasien, dan RSUD Kota Solo 8 orang, dan RSUP Solo 9 pasien. Sedangkan beberapa RS swasta menampung pasien Covid-19 dalam jumlah merata. RS PKU Muhammadiyah Solo menampung 50 pasien, RS Kasih Ibu 51 pasien, dan RS Dr. Oen Solo 48 pasien.

Kepada Espos secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, membenarkan informasi tersebut. “Iya, kami rapatkan lagi mengingat kebutuhan bed isolasi di tengah lonjakan kasus dalam beberapa pekan ini. Kami waspada saja,” ungkapnya.

Ruang isolasi rumah sakit di Solo yang hampir penuh sejalan naiknya jumlah kasus. Menilik data sebulan lalu, total akumulasi kasus pada Selasa (11/5/2021) menyentuh 10.717 kasus dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 527 orang. Sedangkan jumlah akumulasi kasus hingga Jumat di angka 11.575 orang.

Perinciannya, 10.528 orang pulang/sembuh, 379 orang isolasi mandiri, 99 orang rawat inap, dan 569 orang meninggal dunia. Penambahan kasus dalam sebulan mencapai 858 orang, dengan tambahan pasien meninggal sebanyak 42 orang.

Fenomena rumah sakit yang hampir penuh juga terjadi di Sragen. BOR ruang isolasi pasien Covid-19 di RS rujukan mencapai 75% per Jumat. Sementara BOR untuk ruang ICU naik menjadi 90%.

Pada Senin (7/6/2021) lalu, BOR untuk ruang isolasi RS masih 64%. Artinya, dalam waktu lima hari ada peningkatkan BOR isolasi RS sampai 11%. Demikian pula BOS untuk ruang ICU pada Senin lalu masih di angka 84,21%. Lima hari kemudian, keterisiannya naik 5,79% menjadi 90%.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, menyampaikan BOR untuk ICU sekarang mencapai 90% dari kapasitas sebanyak 19 tempat tidur. Dalam tiga hari ke depan, Hargiyanto menyampaikan pembangunan ruang ICU dengan kapasitas enam tempat tidur di RSUD dr. Soeratno Gemolong, Sragen, sudah selesai. Dia berharap penambahan enam tempat tidur di ICU tersebut dapat mencegah penuhnya ruang ICU rumah sakit di Sragen.

“Untuk BOR isolasi di RS di Sragen memang meningkat menjadi 75%. Peningkatan BOR isolasi itu disebabkan Sragen sedang puncak-puncaknya peningkatan kasus baru Covid-19. Hari-hari sebelumnya angka kasus rata-rata 50 orang per hari, sejak sepekan terakhir naik bisa sampai 70 orang per hari. Hari ini saja kasus baru lebih dari 70 orang,” ujar Hargiyanto saat dihubungi Espos, Jumat sore.

Selain menambah kapasitas rumah sakit agar tidak penuh, DKK juga memperbaiki sarana dan prasarana di Technopark untuk menghadapi lonjakan kasus baru di Sragen yang trennya masih naik. Ia mengatakan DKK juga membangun sumur dalam untuk kebutuhan air bersih bagi warga yang melaksanakan isolasi mandiri di Technopark.

Jumlah warga yang menjalani isolasi di Technopark sekarang terus bertambah. Dari 105 orang per Senin lalu, kini naik signifikan menjadi 158 orang. BOR di Technopark Sragen sudah di atas 50% dari total kapasitas sebanyak 280 tempat tidur. “Semoga setelah melewati puncak Covid-19 ini, kasus di Sragen mulai mereda dan menuju zona hijau,” harapnya.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyiapkan instruksi bupati untuk penanganan peningkatan kasus Covid-19. Instruksi bupati itu rencananya terbit pada pekan depan setelah mengakomodasi permasalahan di Sragen.

“Banyak evaluasi dan kami sudah menyiapkan langkah. Tunggu instruksi Bupati saja yang berlaku pada 15 Juni mendatang. Hari ini tadi ada video conference dengan Presiden. Beliau berpesan supaya berhati-hati. Sempat dipaparkan kondisi Covid-19 di Jawa Tengah dan Sragen masih masuk. Selain itu Presiden juga meminta supaya mengejar cakupan vaksin,” ujarnya.

Sedangkan di Karanganyar, sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 per Jumat memang belum penuh dan BOR sebesar 52%. Angka tersebut dinilai masih aman lantaran masih banyak tempat tidur yang tersisa.

Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Karanganyar, Dwi Rusharyanti, kepada Espos, Jumat, menyampaikan situasi itu. Menurut Dwi, Dinkes melakukan pendataan BOR di Karanganyar setiap Senin. Namun, untuk Jumat, menurutnya tingkat keterisian tempat tidur isolasi mencapai 52%. Dari total kapasitas 191 tempat tidur, yang sudah terpakai sebanyak 99 unit.

“Untuk saat ini sudah 52% yang sudah digunakan [tempat tidur isolasi Covid-19]. Kami berkoordinasi dengan direktur di delapan rumah sakit rujukan untuk upaya tetap menjaga ketersediaan tempat tidur antisipasi kenaikan kasus,” kata dia.

Terpisah, Kabid Layanan Medis RSUD Karanganyar, Kristanto, mengatakan dari total 119 tempat tidur isolasi pasien Covid-19 yang tersedia di RSUD Karanganyar, 69 di antaranya sudah terisi. Per Jumat, jumlah tempat tidur yang tersisa sebanyak 50 unit.

Di Sukoharjo, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan saat ini tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19 sekitar 50% dan belum penuh. Pasien positif yang menghuni di ruang ICU justru lebih banyak daripada di ruang isolasi rumah sakit. Artinya, sebagian besar pasien yang menjalani perawatan di RS memiliki gejala sedang hingga berat.

Ada sembilan rumah sakit rujukan Covid-19 di Sukoharjo. “Untuk saat ini, memang ada peningkatan keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19. Paling banyak di ruang ICU karena pasien dengan gejala sedang hingga berat. Ada juga yang dirujuk ke RSDM [RSUD dr. Moewardi] di Kota Solo sebagai rumah sakit yang menangani pasien positif di Soloraya,” kata dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...