Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Perencanaan Pendidikan di Era Adaptasi Kebiasaan Baru sebagai Dampak Pandemi Covid-19

Indana Lazulfa *)

PANDEMI Covid-19 memberi dampak luar biasa terhadap semua sektor kehidupan manusia, tak terkecuali pendidikan. Hal ini membuat lembaga pendidikan menutup sekolah-sekolah maupun kampus sebagai upaya menutup mata rantai penyebaran Covid-19. Pemerintah juga memperpanjang masa tatap muka yang rencananya akan kembali dibuka pada bulan Juli 2021.

Namun itupun sesuatu hal yang juga tidak bisa dipastikan mengingat yang positif terkena Covid-19 semakin hari semakin meningkat. Bahkan sampai bulan Juni 2021 ini terdapat 7.736 kasus Covid-19 di Kudus yang terkonfirmasi di website Kudus Tanggap Corona.

Berinjak dari permasalahan diatas, lantas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meminta lembaga pendidikan untuk melakukan Pendidikan secara Daring (Dalam Jaringan) apalagi di Kudus sekarang ini sudah bukan lagi zona merah melainkan zona hitam mengingat kasus yang semakin bertambah pesat.

Dari ditutupnya sekolah bulan Maret 2020, itu berarti sudah setahun lebih pendidikan dilakukan secara online. Namun kenyataannya, rencana pendidikan daring ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi.

KPAI melaksanakan survei bulan Januari 2021 kemarin dengan hasil: 76% siswa tidak minat untuk belajar jarak jauh, kemudian 76% siswa mengatakan pembelajaran online membuat tugas lebih banyak dan memberatkan, ditambah lagi 42% tidak mempunyai kuota dan alat teknologi seperti HP, dan kesulitan menggunakan aplikasi video ditambah lagi kesulitan sinyal.

Ini menjadi suatu evaluasi bagi para pegiat pendidikan seperti apa metode daring yang efektif dan  menyenangkan. Ditambah lagi saat ini orang tua siswa sudah aktif bekerja di luar rumah, sehingga tidak memiliki waktu yang banyak untuk mendampingi siswa yang masih duduk di bangku MI/SD. Saya pun sering melihat anak-anak yang seharusnya belajar dibangku sekolah tapi lebih sering main game dan bermain ketimbang belajar.

Sebagai solusinya yaitu menggunakan metode daring di malam hari ketika ada orang tuanya, tugas sebaiknya bersifat menyenangkan serta tidak memberatkan siswa, membuat konten video melalui aplikasi youtube atau bisa juga dengan metode tebakan, metode kisah atau bercerita serta metode-metode mengasyikkan lainya. Dan sekarang pemerintah juga sudah memberikan subsidi kuota untuk para pelajar sehingga siswa bisa menggunakan kuota tersebut  untuk mengakses pembelajaran.

Namun, sepertinya pembelajaran daring tidak bisa diterapkan untuk waktu yang lama. Ada celetukan yang mungkin sering saya dengar dan dilontarkan baik dari orang tua, pelajar, atau bahkan guru, “yang tatap muka saja kadang masih tidak paham, apalagi yang tidak tatap muka?  Pasar dan swalayan sudah ramai dibuka bahkan pemerintah juga sudah berani mengadakan pemilu, lantas kenapa pemerintah masih terus menutup sekolah?” Hal-hal seperti itu masih terus menghantui proses pembelajaran daring sehingga masih banyak yang mengeluh dan merasa tidak puas jika pembelajaran daring terus menerus diterapkan.

Senin, 31 Mei 2021, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim membicarakan rencananya yang akan membuka sekolah terbatas mengingat Mal dan wisata sudah lama dibuka, jika memang hal itu akan terealisasi dibulan Juli mendatang maka harus menggencarkan pendidikan di Era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Mengingat proses pembelajaran daring tidak bisa maksimal sehingga banyak lembaga pendidikan yang meminta untuk melaksanakan pembelajaran luring (luar jaringan) di era adaptasi kebiasaan baru. Pembukaan sekolah harus memenuhi kesiapan atas lima unsur, yaitu pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, guru, serta anak.

Jika belum siap, maka harus ditunda sampai semuanya siap. Jika di bulan Juli mendatang kasus Covid-19 di Kudus masih meningkat maka belum bisa membuka sekolah-sekolah, namun jika nanti kasus menurun dan berencana akan membuka sekola-sekolah maka wajib mempersiapkan pendidikan di era AKB.

Persiapan adaptasi baru di lingkungan pendidikan menjadi isu penting ditengah pandemi Covid-19, sekolah perlu menyediakan fasilitas mulai dari westafel didepan setiap kelas wajib dengan sabun dan tissue. Selain itu sekolah perlu menyediakan thermo gun, bilik desinfektan, dan ruang isolasi. Selain itu, sekolah juga harus mempunyai Standar Operasional Prosedur (SOP) AKB, mulai dari protokol memasuki sekolah, kemudian proses belajar, rapat, serta kehadiran guru dan karyawan.

Adapun peraturan yang harus disosialisasikan di era adaptasi kebiasaan baru adalah semua harus menjaga jarak minimal 1 meter dengan satu sama lain, dan wajib menggunakan masker atau fice shield, dan wajib mencuci tangan sebelum dan sesudah pembelajaran.

Perencanaan pendidikan di era adaptasi baru yakni menggunakan model pembelajaran tatap muka namun dengan memperhatikan zonasi, protokol kesehatan, bergiliran (model shift) dibatasi maksimal 3 jam untuk pembelajaran, untuk menghindari kerumunan baik dikelas maupun diluar kelas, dan juga meniadakan kegiatan diluar sekolah yang berpotensi terjadinya kerumunan.

Seharusnya perencanaan pendidikan di era adaptasi baru ini juga harus mengubah kurikulum yang lama, dimana kurikulum yang lama banyak sekali tujuan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Kurikulum seharusnya diganti dengan kurikulum yang tidak membebani siswa, sehingga kurikulum yang dibuat harus sesederhana mungkin namun tetap bisa mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

Penyederhanaan kurikulum ini sebagai bentuk perencanaan pendidikan ditengah pandemi seperti ini, hal ini sesuai dengan konsep merdeka belajar yang digadang-gadang oleh pak Nadiem Makarim. Selain itu RPP juga harus dibuat sesederhana mungkin.

Karena hal itu sejalan dengan pandangan pembelajaran menurut kalangan postmodern, pembelajaran yang baik dan benar adalah teacher student learning together, bukan pembelajaran  teacher centered learning (belajar berorientasi pada guru) atau student centered learning (pembelajaran yang berpusat pada siswa), tetapi yang baik adalah, pembelajaran yang berpusat pada guru dan siswa, sehingga guru dan siswa sama-sama belajar (Warsiman dalam bukunya Posmodernisme, Pedagogi, dan Filsafat Pendidikan).

Pada intinya tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka namun dengan peraturan protokol kesehatan serta menyederhanakan kurikulum karena mengingat dalam pandemi tidak boleh terlalu lama untuk melakukan aktivitas yang berpotensi banyak kerumunan.

 

*)  Mahasiswi S2 IAIN Kudus, Manajemen Pendidikan

Comments
Loading...